Vengeance - Cerpen Bag.1
***
Ify tersenyum tipis dan melambaikan tangan membalas sapaan siswa-siswi yang menyapanya ketika baru datang kesekolah. Ya, ini sudah menjadi kebiasaan Ify sehari-hari jika baru datang kesekolahnya, semua siswa-siswi selalu menyapanya. Ify memang sangat populer disekolahnya, populer karena kecantikannya membuatnya seolah menjadi ratu di sekolah. Tak heran jika banyak sekali siswa-siswi yang mengaguminya. Ify memang termasuk siswi paling cantik di sekolahnya dan tak ada yang bisa mengalahkan kecantikannya. Tetapi karena kelebihannya yang satu ini membuatnya menjadi gadis yang sombong dan egois. Tetapi meskipun gadis ini memiliki sifat yang sangat sombong dan egois, siswa-siswi di sekolahnya masih tetap menyukainya, masih tetap memperlakukannya layaknya seorang ratu disekolah dan Ify sangat penyukai hal ini. Semua siswa-siswi disekolahnya seperti tunduk kepadanya, tidak ada yang berani melawannya bahkan kekasihnya sekalipun. Seperti saat ini, ketika ia baru sampai disekolah banyak siswa-siswi yang langsung menyapanya. Ify hanya membalas dengan lambaian tangan dan tersenyum tipis. Ketika sibuk membalas sapaan siswa-siswi yang menyapanya Ify tidak sadar kalau ia telah menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya, membuat gadis ini terjatuh dan seperti telah dipermalukan.
“Sial!” umpat gadis ini kesal. Benar dugaannya, kini ia sudah mendengar beberapa bisikan mengenai dirinya. Ia benar-benar merasa seperti dipermalukan. Wajahnya memanas menahan marah. Dengan cepat ia memutar kepalanya menatap orang yang ia tabrak. Walaupun Ify yang menabrak orang itu tetap saja gadis ini tidak mau disalahkan, tidak mau mengakui kalau sebenarnya ialah yang menabrak orang itu. Dengan sikap angkuhnya ia berdiri kemudian berkacak pinggang dengan memasang wajah yang terlihat sangat sinis. “Heh, punya mata nggak sih loe?!” Ify membentak orang itu.
Orang yang di tabrak Ify berdiri, menatap dingin gadis itu. Tanpa mengucapkan sesuatu, orang ini langsungt pergi meninggalkan gadis itu. Tak memperdulikan gadis itu yang tengah marah padanya. Lagian ia merasa bukan ia yang salah lalu kenapa gadis itu yang marah? Seharusnya ialah yang lebih pantas untuk marah. Ia tahu gadis yang menabraknya ini adalah gadis populer dan mempunyai banyak penggemar. Percuma saja di tanggapi.
“Heh?! Loe tuli atau apa sih?!” marah Ify. Semua ‘para pengagum’ Ify langsung berhenti berbisik-bisik setelah mendengar bentakan Ify. Semua mata ‘pengangum’ Ify langsung menatap tajam kearah dimana orang itu sedang berjalan menjauhi Ify.
Orang itu memberhentikan langkahnya. Kemudian membalikkan badan menatap Ify yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal. Ia tahu gadis itu pasti benar-benar sangat kesal padanya dan tidak lama lagi ia pasti sudah mendapat biru-biru dan darah di wajahnya dari orang ketika gadis ini menyuruh orang untuk menghajarnya. Ya, gadis itu memang paling populer di sekolah tetapi hati-hati saja bila mendapat masalah dengan gadis itu. Sekarang, ia hanya bisa diam saja tak menyaut apa pun, menunggu ‘gadis sombong’ didepannya ini melanjutkan maksud dari perkataannya.
“Heh?! Loe bisu ya?! Hah?!” marah Ify, gadis ini terlihat benar-benar sangat jengkel.Ify menatap orang itu geram. Sejak tadi orang itu tidak berbicara apapun. Siapa yang tidak kesal dicuekin? Apalagi waktu Ify dipermalukan oleh orang itu. Benar-benar sial. Gadis yang satu ini benar-benar tidak mau disalahkan, kenapa? Lho, kalau saja orang itu memperhatikan jalan yang benar juga tidak mungkin kan Ify menabrak orang itu? Itulah salah satu alasan yang ada dalam benak Ify mengapa gadis itu tidak mau disalahkan.
Orang itu mendengus pelan mendengar hinaan Ify untuknya. Tadi ia dibentak dengan kata-kata kasar hinaan ‘tuli’, lalu sekarang gadis itu menghinanya ‘bisu’, bentar lagi apa? Pikun? Idiot? Atau apa? Jujur saja, ia paling benci jika dihina. Siapa yang tidak kesal dihina-hina oleh orang? Kalau yang salah diri sendiri tidak masalah, bisa menerima hinaan itu walaupun ada sedikit rasa marah gara-gara dihina. Tetapi kalau yang menghina orang yang salah? Siapa yang tidak kesal?
Ify sendiri masih menatap orang itu dengan perasaan yang masih sama dengan yang sebelumnya. Kesal. Marah. “Heh?! Cowok bego?! Loe ngedengerin gue ngomong nggak sih?!” lagi-lagi ia membentak lelaki itu. Ia melihat orang itu masih tidak merubah sikapnya, orang itu masih terlihat cuek di depannya. Salah satu hal yang Ify benci hanya satu, tepat yang disaat-saat seperti ini. Dicuekin. Tapi ada satu hal yang membuat Ify aneh. Orang ini kelihatannya sama sekali tidak tertarik dengannya, padahal rata-rata semua siswa di sekolahnya ini menyukainya, kagum padanya, tertarik padanya. Tetapi kenapa orang ini sama sekali tidak tertarik padanya? Memangnya Ify beda di mata orang itu?
Karena merasa tidak ada gunanya berbicara dengan ‘gadis sombong’ didepannya ini, orang itu kembali membalikkan badannya kemudian kembali melanjutkan langkah-langkah kakinya yang membawa menuju ke taman sekolah. Ia tidak menghiraukan beberapa pasang mata ‘pengagum’ ‘gadis sombong’ itu yang tengah menatapnya dengan pandangan tak suka. Orang ini terus menlanjutkan langkahnya menuju ketaman sekolah.
Ify benar-benar kesal, kakinya ia hentak-hentakkan dengan keras. Kemudian ia memanggil teman laki-lakinya. Beberapa gerombolan lelaki menghampirinya. Ify tersenyum tipis, dengan raut wajah yang masih sama —kesal, marah— ia berbicara pelan dan membisiki sesuatu pada teman laki-lakinya. “Hajar orang itu sampe mampus?! Biar tau rasa tuh orang, siapa sih namanya?! Berani banget tuh cowok?!” geram Ify menahan emosi ketika membisikkan sesuatu pada teman laki-lakinya.
“Sip deh, itu anak namanya Rio…” jawab salah satu seorang teman laki-laki Ify.
***
Rio duduk diatas bangku taman dengan posisi miring, kakinya ia selonjorkan kedepan. Kemudian ia langsung mengeluarkan komik yang baru dibelinya kemarin sore dan mulai membaca. Beberapa saat, Rio sudah tenggelam dalam dunianya sendiri membaca komik. Tak berlangsung lama untuk tenggelam dalam dunianya, karena tiba-tiba Rio merasa ada yang mendorong kasar tubuhnya dari samping sehingga membuatnya nyaris saja terjatuh dari bangku taman.
Nah, inilah saat yang sudah Rio duga. Rio melirik jamnya sekilas, belum ada setengah jam. Sudah datang segerombolan siswa —lebih tepatnya mungkin teman-temannya sendiri— yang sudah siap untuk menghajarnya. Ia tahu, gadis itu pasti akan menyuruh seseorang menghajar dirinya gara-gara perlakuannya tadi. Memangnya, dengan cara ini ia takut? Tidak. Itu salah besar. Rio sama sekali tidak takut dihajar oleh segerombolan teman-temannya sendiri. Ia bahkan rela dihajar sepuasnya oleh teman-temannya. Satu yang ada dalam pikirannya, ia tidak mau mencari masalah. Lagian yang mulai mencari masalah bukan dia kan?
“Heh?! Turuh loe?! Lawan kita kalo berani?!” tantang salah satu temannya yang wajahnya paling garang. Temannya yang memiliki wajah paling garang itu menatap Rio dengan tatapan sinis dan meremehkan seolah yakin kalau Rio akan tunduk padanya. Ketika Rio sudah berdiri sesuai yang orang ini perintahkan, orang ini langsung mengisyaratkan pada teman-temannya untuk langsung menghajar Rio sampai lelaki itu benar-benar ‘mampus’ sesuai dengan keinginan ratu sekolahnya. Melihat isyarat dari temannya yang memiliki wajah paling garang ini, ketiga temannya langsung menghampiri Rio dan menghajar lelaki itu.
Dua orang memegangan lengan Rio dengan keras bagian kiri dan kanan sedangkan yang satunya lagi bersiap untuk mendaratkan kepalannya dengan keras di sekitar tubuh Rio sesukanya. Pukulan pertama didaratkan di perut Rio dengan keras membuat lelaki itu meringis kesakitan, keduanya di dada bidang Rio membuat Rio merasa dadanya menyesak, ketiga pukulan didaratkan disekitar wajah Rio seperti pipinya membuat Rio mengeluarkan cairan kental berwarna merah dari hidung dan mulutnya ditambah dengan beberapa memar-memar berwarna biru kehitaman pada bagian wajahnya karena terlalu keras meninju wajah lelaki tampan ini.
Rio mulai merasa kesakitan, ia sudah tidak tahan dengan sakit yang begitu sangat nyeri pada bagian wajah, dada dan perutnya langsung menepis kasar kedua orang temannya yang sedang memegang lengannya dengan kuat. Rio membalas pukulan temannya pada bagian yang sama namun lebih keras. Temannya yang memiliki wajah paling garang terkejut melihat Rio membalas pukulan, tidak yang seperti ia kira. Rio ternyata dapat membuat ketiga temannya babak belur dalam sekejap. Tak heran jika Rio dapat membuat temannya sendiri babak belur dalam sekejap. Bela diri Karate dengan sabuk hitam membuatnya sangat mudah untuk membuat teman-temannya yang babak belur.
Tetapi temannya yang memiliki wajah paling garang itu sama sekali tidak terlihat takut, ia malah tertawa meremehkan Rio sambil bertepuk tangan pelan. “Pinter juga ya loe ngebuat temen gue babak belur. Hebat banget loe…” kata temannya ini. Entah maksud dari perkataannya adalah memuji atau menyindir. Melihat Rio sama sekali tidak menghiraukannya, temannya ini langsung mendekati Rio kemudian mendaratkan kepalannya pada perut Rio dan sukses membuat Rio jatuh tersungkur ke tanah. Ketiga temannya berdiri dan ikut menghajar Rio yang masih tersungkur di tanah.
Rio tak membalas pukulan-pukulan yang diberikan pada dirinya dari keempat temannya, Rio hanya dapat memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Kemudian lelaki ini tidak bergerak lagi. Temannya yang memiliki wajah paling garang menarik tubuh Rio untuk melihat keadaannya, senyumnya mengembang bersama keempat temannya ketika melihat bagaimana keaadaan lelaki yang sudah dihajarnya. Lelaki itu diam tak bergeming. Lelaki itu menutup matanya. Itu berarti lelaki itu pingsan. Ya, tidak salah lagi. Dengan perasaan sama sekali tidak peduli, keempat siswa ini meninggalkan Rio yang pingsan disana.
***
Kesenangan Ify ketika bertemu dengan kekasihnya memudar ketika bertemu dengan lelaki yang sudah membuatnya sangat kemarin pagi. Ia bahkan lupa dengan kekasihnya sendiri dan kesenangannya ketika bertemu dengan kekasihnya menghilang gara-gara melihat lelaki itu. Ify langsung memasang wajah jutek ketika melihat Rio —orang yang dimaksud Ify— lewat tepat disebelahnya. Tepat pada saat Rio melewatinya, Ify menyeletuk dengan nada keras. “Aduh, jadi cowok nggak tau malu banget sih?! Udah tau salah bukannya minta maaf malah langsung pergi gitu aja. Itu apaan lagi memar-memar di pipi?! Kasian…” sindirnya.
Semua pasang mata disekitar Ify menoleh kearah Ify dan Rio. Ify tersenyum penuh kemenangan sedangkan Rio lagi-lagi bersikap cuek dan sama sekali tidak menghiraukan Ify juga puluhan pasang mata yang sedang menatapnya. Lelaki ini melanjutkan langkahnya menuju kantin sekolah, lagi-lagi sikap cueknya membuat Ify benar-benar semakin kesal. Cakka —kekasih Ify— langsung menarik tangan Ify membawa Ify pergi dari sana. Ketika Cakka menarik tangan Ify beberapa siswa-siswi menyoraki mereka, entah menyorakinya dengan maksud apa. Menggoda atau tak suka melihat Cakka menarik tangan si ratu sekolah yang sangat cantik itu.
Ternyata Cakka mengajak Ify ke kelas, kebetulan Cakka dan Ify satu kelas. Ify langsung memilih duduk diatas meja kursi pojok paling depan dan Cakka mengikuti Ify duduk disebelah gadis cantik itu. Sebenarnya Cakka penasaran kenapa tiba-tiba Ify berbicara seperti tadi ketika Rio lewat. “Say, tadi kenapa sih kok kamu kayaknya marah banget gitu pas Rio lewat langsung marah-marah gitu? Rio nyari masalah sama kamu? Kalo nggak kenapa kamu marah dan wajahnya Rio babak belur gitu?” tanya Cakka sambil menolehkan kepalanya kearah Ify dan Cakka dapat melihat wajah cantik milik Ify walaupun yang ia lihat hanya dari samping tapi Ify masih tetap terlihat sangat cantik.
Ify menoleh kearah Cakka yang duduk disampingnya, Ify melihat Cakka sedang tersenyum padanya. “Yang tadi itu? Lupain aja deh, nggak penting…” jawab Ify singkat. Rasanya gadis ini sama sekali tidak berminat untuk berbicara lebih banyak dan Cakka bisa memahami itu. Maka dari itu Cakka tidak bertanya lagi pada Ify. Seperti yang sudah dibilang, kekasihnya sendiri saja tidak mau membuat Ify kesal dan jangan heran jika membuat gadis cantik satu ini kesal, marah atau mempunyai masalah beberapa jam kemudian sudah babak belur seperti yang telah dialami oleh Rio.
“Udah deh, gue mau ngumpul bareng temen-temen gue. Males gue di kelas, loe juga sih ngapain ngajak gue ke kelas kayak nggak ada tempat lain yang lebih enak dipandang aja…” kata Ify kemudian berjalan keluar kelas menemui teman-temannya. Cakka hanya diam saja, menghela napas pendek dan menghembuskannya dengan cepat.
***
Siang harinya, Ify sedang bersantai di rumahnya. Ia membaca majalah milik Mamanya di ruang tamu. Saat itu kedua orang tuanya serta kakaknya menghampirinya disana. Spontan saja, Ify langsung berhenti dengan kesibukannya membaca majalah dan menutup majalah tersebut. Ia melirik kakak laki-lakinya dengan pandangan penuh tanya, kakaknya yang mengerti maksud tatapan adik perempuannya ini hanya bisa mengangkat bahunya karena memang kakak laki-laki Ify ini tidak tahu. Melihat kakaknya mengangkat bahu tanda tidak tahu, Ify langsung melirik kearah Papa dan Mamanya. Sama seperti tadi, menatap kedua orang tuanya dengan pandangan penuh tanya.
“Kenapa, Pah, Mah?” tanya Ify bertanya ketika Papa, Mama dan Kakaknya sudah duduk di sofa ruang tamu.
Papa Ify tersenyum pada Ify. Kemudian melirik ke Mama Ify dan Mama Ify hanya menganggukkan kepalanya. Melihat itu, Ify dan Kakaknya sama-sama bingung. Melihat Ify seperti mau bertanya lagi, Papa Ify sudah mendahuluinya. “Ada hal penting yang mau Papa bicarakan sama kamu, Fy…” jawab Papa Ify merespon pertanyaan yang Ify tanyakan pada Papanya sebelumnya. Melihat alis Ify terangkat, Papa Ify tersenyum dan melanjutkan. “Jadi gini… Kamu akan Papa jodohkan dengan anak teman Papa dan kamu harus nerima…” kata Papa Ify.
Mendengar perkataan Papanya, mata Ify terbelalak lebar. Kaget dengan yang di katakan Papanya barusan. “Apa?! Di jodohkan?! Papa, emang Papa pikir ini masih jamannya Siti Nurbaya? Ini udah jaman modern, Pah, masak di jodohin sih? Apa kata temen-temen Ify nanti disekolah kalo mereka tau Ify dijodohin?! Pokoknya Ify nggak mau di jodoh-jodohin, lagian Ify kan udah punya pacar, Pah, Mah…” kata Ify menolak mentah-mentah perjodohan dari Papanya dengan anak teman Papanya.
“Alasan Papa jodohin kamu sama anak temennya Papa ya karena kamunya itu suka gonta-ganti pacar. Inget lho, Fy, kamu udah kelas 3 SMA bentar lagi juga mau kuliah kalo kamu nggak bisa serius sama hubungan kamu percuma. Meskipun kamu populer dsekolah kalo suka gonta-ganti pacar ntar malah bisa jadi kamunya nggak dapat pendamping hidup, Fy, makanya Papa sama Mama mutusin kalau kamunya lebih baik di jodohin sama anak temen Papa lagian anaknya temen Papa itu ganteng lho, dari semua mantan pacarmu aja kalah gantengnya…” kata Papa Ify panjang lebar.
Ify memajukan bibirnya beberapa centi kedepan. Sama sekali tidak setuju dengan keputusan Papa dan Mamanya yang seenaknya sendiri. Ia merasa tidak adil. Kakaknya tidak di jodoh-jodohkan tapi kenapa ia harus di jodoh-jodohkan segala? “Pah, Mah, pokoknya Ify nggak mau?! Lagian kali ini Ify serius kok sama Cakka…” kata Ify dengan nada memelas. Mencoba meyakinkan kedua orang tuanya agar kedua orang tuanya percaya padanya dan membatalkan masalah perjodohan itu. Nggak sudi banget Ify di jodoh-jodohkan. Apalagi di jodohkan dengan orang asing.
“Pokoknya Papa nggak mau denger alasan dari kamu lagi, kamu harus nerima perjodohan ini dan setelah lulus SMA kalian harus bertunangan. Papa juga udah bilang sama temen Papa kalo kamu nerima perjodohan ini, ngerti?” kata Papanya yang sudah mulai bosan dengan tingkah anak perempuannya yang satu ini. Kemudian Papanya beranjak dari tempatnya meninggalkan ruang tamu itu, hal yang sama dilakukan oleh Mama Ify. Sebelum berbalik, Papanya kembali berbicara. “Oh ya, nanti malam dandan yang cantik. Kamu harus dinner sama calon suami kamu nanti malam…”
Kakaknya masih berda disana, sama seperti Ify kakaknya juga kaget. Ia memandang adik perempuannya dengan perasaan kasihan. Ia langsung menghampiri Ify dan duduk disebelah adiknya itu. “Sabar ya, mungkin Papa sama Mama ngelakuin ini untuk kebaikan dan masa depanmu…” hibur kakaknya.
Ify tersenyum kecut. “Tapi nggak gini juga kan, Kak, caranya?”
***
Ify masuk ke café yang di beritahu oleh Papanya bahwa orang yang akan dijodohkan dengannya tengah menunggunya disana. Namun yang Ify lihat disana ternyata tidak ada orang —seorang lelaki yang tengah duduk sendirian seperti sedang menunggu— kecuali beberapa pasangan yang sedang asyik sendiri. Tetapi yang dilihatnya salah, matanya menangkap sesosok lelaki yang tengah sendirian duduk sendirian. Ify tidak tahu lelaki itu karena lelaki itu membelakanginya t5etapi Ify yakin lelaki itu adalah lelaki yang di jodohkan dengan dirinya. Ya, semoga saja apa yang dibilang oleh Papanya benar, lelaki ini jauh lebih tampan dari semua mantan pacarnya. Semoga saja…
Ify berjalan mendekati meja lelaki itu dan menepuk pelan lelaki itu. “Udah nunggu lama ya? Eh, Loe yang dijodohkan sam—” ucapan Ify berhenti ketika lelaki itu menoleh kearahnya dan Ify mengenali lelaki itu. Matanya terbebelak lebar saking kagetnya melihat lelaki yang duduk di depannya ini. Ah, ini sama sekali tidak mungkin. Kalaupun memang Ify di jodohkan dengan anak teman Papanya dan sekarang lelaki itu sedang menunggunya di café ini tidak mungkin lelaki yang duduk di depannya inilah yang dijodohkan dengannya. Pasti lelaki yang di jodohkan dengannya belum datang ke café ini. Ya, pasti. Tidak mungkin lelaki ini yang di jodohkan dengannya. Tidak mungkin.
Tak hanya Ify, lelaki yang duduk di depan Ify juga memasang tampang kaget. Matanya juga terbelalak lebar. Kaget dan sama sekali tidak percaya. Namun lelaki ini hanya bisa teridam, mulutnya terkunci rapat saking kagetnya.
“Loe ngapain disini? Loe ngikutin gue?” tanya Ify dengan percaya dirinya sambil mengibaskan rambutnya dengan sikap angkuhnya seolah yakin dengan perkataannya sendiri kalau lelaki ini telah mengikutinya. Pengagum rahasianya yang telah ketahuan siapa orangnya. Ify juga memandang lelaki yang duduk di depannya ini dengan pandangan tak suka. Lelaki ini adalah Rio, lelaki yang sudah membuatnya jengkel setengah mati gara-gara di permalukan dan di cuekin abis-abisan. Huh, kenapa sih harus bertemu Rio di tempat ini? Pikir Ify kesal. Kekesalannya juga semakin bertambah ketika mengingat kejadian saat ia merasa dipermalukan oleh Rio.
“Gue? Ngikutin elo? Nggak ada kerjaan banget gue ngikutin elo…” sahut Rio sinis. Untuk pertama kalinya Rio berbicara ‘agak panjang’ seperti ini. Entah setan atau malaikat seperti apa yang merasukinya saat ini sampai-sampai ia mau menanggapi omongan orang lain yang mengajak ia berbicara, tidak seperti biasanya yang selalu bersikap kelewat dingin sama orang-orang.
“Terus ngapain lagi loe kesini kalo nggak ngikutin gue? Udahlah, ngaku aja. Sebenernya loe juga suka kan sama gue? Loe kagum kan sama kecantikan? Jujur aja deh, siapa sih nggak nggak suka sama gue? Cuman orang buta yang nggak bisa suka sama gue. Semua gadis yang di idam-idamkan cowok ada semua di diri gue jadi nggak heranlah kalo banyak yang suka sama gue. Termasuk elo, iya kan? Jujur aja deh…” kata Ify yakin sambil tersenyum angkuh seolah yang dikatannya tadi memang benar. Sikap yang sama sekali tak Rio suka dari ‘gadis sombong’ ini.
“Gue dateng kesini karena gue mau ketemu sama cewek yang di jodohin sama gue! Bukan karena ngikutin elo, PD banget sih loe jadi cewek…” kata Rio dingin tanpa menoleh kearah Ify, nada suaranya terdengar begitu sangat sinis. Kemudian beberapa saat ia menoleh dan menatap sinis kearah Ify. “Jadi orang nggak usah ke-PD-an deh, mentang-mentang cantik gitu… Gue sumpahin leo naksir sama cowok jelek…” lanjut Rio lagi kemudian mengalihkan pandangan.
Ify tercekat mendengar perkataan Rio. Khususnya pada perkataan yang pertama tadi. Rio berkata kalau lelaki itu sedang menunggu gadis yang dijodohkan dengannya? Tunggu. Bukankah tujuan Ify ke café ini juga karena hal itu? Berarti… Dugaan Ify benar? Oh God. Mimpi apa Ify semalam. “Loe kesini nungguin cewek yang di jodohin sama elo? Seriusan? Oh God. Kenapa harus cowok kayak dia yang Papa dan Mama pilih…” kata Ify shock.
“Maksud loe apaan sih? Udah deh, ngapain loe masih disini…” kata Rio mengusir Ify.
“Heh?! gue itu cewek yang dijodohin sama loe. Elo beruntung banget dapet cewek secantik dan sepopuler gue tapi gue sengsara dapet cowok kayak loe, udah jelek, item, kuper lagi. Ya ampun, apa kata temen-temen gue ntar?” kata Ify sambil menepuk jidatnya. Kaget. Shock. Nggak percaya.
Rio membelalakkan matanya. “Loe nggak usah ngarang cerita…” kata Rio menolak kenyataan.
“Gue nggak ngarang cerita, bego. Loe nggak usah ke-GR-an deh. Emangnya gue mau apa di jodohin sama loe? Sampe gue mati pun gue nggak bakalan sudi di jodohin sama loe?!” kata Ify sambil menunjuk-nunjuk Rio dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah Rio. Membuat lelaki itu sedikit memundurkan badannya agar matanya tidak kena culek tangan Ify.
Rio menatap Ify dingin dan membalas perkataan Ify. “Emangnya gue mau dijodohin sama loe? Sama sekali nggak, jangan terlalu berharap! Gue juga nggak sudi dijodohin sama elo…” balas Rio dengan nada sinis. Perasaannya sangat kacau saat ini.
Ify menghela napas panjang, dadanya sesak, matanya memanas, rasanya ia benar-benar sangat ingin nangis. Kenapa harus dengan Rio yang di pilih orang tuanya? Kenapa? Yang kata orang tuanya lelaki yang dijodohkan dengannya lebih tampan dari pada semua mantan pacarnya mana buktinya? Ify malah lebih memilih semua mantan pacarnya dari pada lelaki ini. Lelaki yang sudah membuatnya kesal setengah mati, kenapa? Kenapa harus terjadi? Kenapa harus Rio? Kenapa harus lelaki itu? Kenapa bukan lelaki lain?
***
To Be Continued


1 komentar:
yaaa belum lanjut lagi yaa.. padahal keren juga nih gue suka temanya(benci jadi cinta)
ayo dong lanjut.. semangatt yaa nulisnya..
numpang promo yaa, kunjungi juga blog gue ini: obatkistatradisional
Post a Comment