About me

My Photo
No Name
Bacalah ceritaku, meskipun tidak sebagus karya ICL lainnya, tapi aku ingin karyaku dibaca dan di hargai :)
View my complete profile
Feeds RSS
Feeds RSS

Wednesday, January 18, 2012

Don't Love Me - Part 4

Don't Love Me - Part 4

***

“Hah? Rio? Siapa tuh Rio?”

Alvin langsung menolehkan kepalanya ke arah Ify, ada raut wajah kekagetan di wajah tampan Alvin. Apa kata Ify tadi? Ify bertanya Rio siapa? Tidak mungkin. Masak dengan mudahnya Ify bisa melupakan Rio begitu saja. Bentar, bentar, mungkin Ify lebih mengenal Rio dengan nama ‘Steph’ bukan ‘Rio’. Ya, sepertinya begitu. “Ee, mungkin Adek lebih kenal dengan nama ‘Steph’ dari pada ‘Rio’. Jadi, gimana? Kamu inget?” tanya Alvin.

Ify mengerutkan kening. Semakin bingung dan tidak mengerti. “Tadi Rio sekarang Steph? Sebenernya siapa sih Rio atau Steph itu?” tanya Ify benar-benar tidak mengerti. Mendengar kedua nama itu Ify tampak asing tapi hatinya justru berkata sebaliknya. Hatinya mengatakan ia kenal dengan pemilik nama itu, tapi siapa…

“Dek, kamu beneran lupa?” kata Alvin dengan nada kecil. Entah, yang ia katakan itu bertanya atau tidak. Seingatnya, semenjak Rio pindah Ify mendadak menjadi pendiam selama seminggu kemudian kembali ceria lagi tetapi sekarang? Ify lupa? Oh, ini sungguh sangat aneh.

“Aduh, Kak Alvinku sayang, yang jelas dong kalo ngomong. Rio itu siapa sih?” tanya Ify gemas.

Alvin menghela napas pelan. Sepertinya Ify memang sudah benar-benar lupa dengan Rio. Alvin hanya dapat mengacak-acak rambut adiknya tanpa menjawab apa yang Ify tanyakan. Sambil tersenyum kecil, ia berbicara pelan. “Sudah sana tidur, ini udah malem. Kakak pulang dulu…” kata Alvin pelan.

***

Gabriel duduk dalam diam di kursi depan kelasnya sambil menatap gerbang sekolah yang jaraknya sangat jauh dari tempatnya kini sedang duduk. Ia mengamati setiap siswa-siswi yang memasuki sekolahnya. Orang yang ditunggunya tak kunjung datang ke sekolah, perasaannya benar-benar sangat gelisah. Tapi tak berlangsung lama karena orang itu baru saja memasuki sekolah. Wajah Gabriel cerah dan spontan ia langsung berdiri. Kakinya melangkah untuk berjalan menghampiri orang itu. Sivia.

“Sivia…” sapa Gabriel pelan, kaku.

Sivia menoleh, Ify yang lagi bersama Sivia juga menoleh. Menoleh kearah Gabriel. “Kenapa, Kak?” tanya Sivia. Heran.

“Ohh, nggak. Cuma nyapa aja, kebetulan gue ngeliat elo…” jawab Gabriel enteng sambil memasang senyumnya yang sangat manis itu.

Sivia hanya tersenyum, kemudian melanjutkan jalannya bersama Ify menuju kelasnya dengan langkah pelan. Gabriel memandang Sivia sambil ikut tersenyum. Memandang gadis itu sampai akhirnya gadis itu berbelok dan tak terlihat lagi, baru setelah itu Gabriel berjalan menghampiri teman-temannya.
***
Hari ini Alvin sengaja izin sekolah, ia akan izin tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Ia kembali ke desanya di Sragen. Semalam, ia teringat dengan obrolannya dengan Ify, waktu Alvin berbicara tentang Rio pada Ify. Tetapi Ify tidak mengingat siapa Rio. Ia juga teringat dengan isi email dari Rio. Dimana lelaki itu menulis bahwa lelaki itu akan pulang ke Indonesia dan menetap di sini. Awalnya, ia ingin memberi kejutan untuk Ify tentang berita ini, tetapi karena Ify tidak ingat siapa Rio jadi apa gunanya memberi tahu Ify kalau lelaki itu akan pulang.

Dan alasannya untuk izin tidak masuk sekolah karena hal ini Rio sudah datang dan sebagai teman yang baik Alvin menjemput Rio. Alvin sebenarnya sudah tahu, Rio datang sudah sejak beberapa hari yang lalu. Karena Rio tidak tahu kalau Alvin, Ify dan Sivia bersekolah di Jakarta, Rio kembali terbang menuju ke Semarang. Karena hal itu Alvin menyuruh Rio tidak terburu-buru berangkat ke Jakarta dan menunggunya sampai datang. Sekalian Alvin juga ingin tahu bagaimana keadaan keluarganya yang berada di desa.

***

“Yel, itu Sivia sama Ify bareng sama siapa sih?”

Gabriel menoleh kearah yang di tunjuk oleh Cakka. Kemudian bergumam tak jelas gara-gara matanya menangkap sosok Sivia saat itu. Tapi kemudian tersadar ketika Gabriel bertanya gadis yang sedang bersama Ify dan Sivia. “Yang itu? Namanya Agni, dia kan siswi baru…” jawab Gabriel jutek. Kemudian ketika beberapa saat ia langsung menoleh cepat kearah temannya yang bertanya tentang Agni. “Kenapa loe tanya-tanya? Jangan-jangan loe suka lagi sama tuh cewek… Jeeh, ternyata seorang Cakka Kawekas Nuraga udah bosen sama cewek yang seksi, yang tomboy ikutan di embat…” goda Gabriel sambil tertawa.

Temannya yang di panggil Cakka melotot galak kearah Gabriel. “Idih, siapa juga yang naksir sama tuh cewek aneh. Lagian ngapain juga gue naksir sama dia, bukan level gue…” kata Cakka.

“Gue sumpahin loe nyantol sama dia…” kata Gabriel masih tertawa.

“Loe kata jamuran nyantol-nyantol?” desis Cakka.

Gabriel semakin tertawa lebar.

***

To Be Continued

| Free Bussines? |

0 komentar:

Post a Comment