About me

My Photo
No Name
Bacalah ceritaku, meskipun tidak sebagus karya ICL lainnya, tapi aku ingin karyaku dibaca dan di hargai :)
View my complete profile
Feeds RSS
Feeds RSS

Wednesday, January 18, 2012

Don't Love Me - Part 5

Part 5

***

Alvin mengetuk pintu rumahnya. Senyumnya yang begitu manis tak lepas dari wajahnya, ketika mengetuk pintu dan ada orang yang membukakan pintu ia yakin pasti ia langsung memeluk orang itu. Orang yang sudah ia rindukan sejak lama. Ibu dan Bapaknya. Sudah hampir setengah tahun Alvin tidak bertemu dengan kedua orang tuanya yang begitu sangat ia sayangi.

Tok… tok… tok…

Alvin membuka pintu rumahnya, dan benar. Begitu Ibunya membuka pintu lantas Alvin langsung melepaskan tasnya yang ia genggam dan langsung memeluk Ibunya. “Ibu, Alvin kangen…” begitulah yang dikatakan lelaki ini pada Ibunya begitu lelaki ini telah memeluk Ibunya.

“Lho, kok kamu pulang, Vin? Emangnya udah liburan?” tanya sang Ibu pada Alvin sambil melepaskan pelukan Alvin. Kemudian matanya melirik kearah belakang Alvin dan alisnya terangkat sebelah. “Lho, Vin. Ify mana? Kok nggak ada? Dia nggak ikut?” tanya Ibunya.

Alvin tersenyum kecil. “Oh, itu. Nggak, Bu, Ify nggak ikut. Alvin kesini bukan untuk liburan pulang ke kampung tapi Alvin mau ngejemput seseorang…” jawab Alvin sambil tersenyum kecil.

“Siapa?”

Rio…”

Rio?”

Alvin tersenyum melihat Ibunya tampak heran mendengar nama “Rio”. Kemudian ia mulai berbicara lagi. “Itu, lho, Bu. Temennya Alvin waktu masih kecil… Yang terus tuh anak pindah ke Amerika, dulu dia sering banget jailin Ify sampe Ify nangis. Dan sekarang, Rio udah pulang, Bu…” jawab Alvin.

“Owalah, Rio anaknya Pak Zeth itu? Iya, kemarin Ibu juga ngeliat dia dirumahnya yang lama itu…” kata Ibunya.

“Beneran, Bu?” tanya Alvin, senyumnya mengembang.

“Iya, Vin…” jawab Ibunya.

Alvin buru-buru memasukkan tasnya kedalam rumah kemudian berseru pada Ibunya yang sedang menatapnya heran. “Bu, Alvin kerumahnya Rio dulu deh kalo gitu…” katanya.

“Nggak istirahat dulu? Kan baru nyampe…” kata Ibunya.

“Nggak usah Bu…” kata Alvin.

Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya yang tidak berubah itu. Memandang punggung Alvin yang semakin menjauh dari rumahnya sampai lelaki itu berbelok dan menghilang. Ibunya lagi-lagi tersenyum.

***

Alvin nyaris saja tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat didepan matanya. Mulutnya menganga lebar dan matanya terbelalak, jantungnya terasa seperti tidak berderak lagi. Orang yang dicarinya dan merela-relakan pergi ke desanya demi teman lamanya kini telah berubah drastis. Seorang temannya yang sangat jail itu berubah menjadi lelaki tampan, jauh lebih tampan dari dugaannya yang sebelumnya bahkan mengalahkan ketampanan Alvin.

“Loe… Rio?” tanya Alvin bodoh sambil mengamati lelaki yang dipanggil dengan nama Rio itu dari bawah sampai atas.

Rio tersenyum tipis, kemudian melepaskan kacamata hitam yang dipakainya. Menatap Alvin dengan mata berbinar, senyumnya begitu sangat manis. “Yaiyalah, gue Rio. Masak loe udah lupa sama gue, nggak mungkin kan? Lagian kita juga sering kan ngobrol lewat email?” jawab Rio santai. “Ify mana?” tanya Rio.

Alvin tersenyum jahil. “Kayaknya dugaan gue selama ini bener deh kalo loe… Suka sama adik gue? Ngaku aja, haha…” kata Alvin tertawa renyah.

Rio tersenyum malu. “Ya, begitulah. Aku… Memang udah suka sama Ify sejak kecil, sebelum aku dan keluargaku pindah ke Amerika…” sahut Rio pelan sambil menutupi rasa malunya yang sudah ketahuan sama Alvin.

Lagi-lagi Alvin tertawa.

“Ify mana?” tanya Rio mengulangi pertanyaannya yang belum sempat Alvin jawab. “Dia nggak ikut kesini?” tanya Rio, wajahnya berubah menjadi raut wajah kecewa.

“Nggak, Yo, loe sama gue ikut aja ke Jakarta. Kita bikin surprise buat Ify…” usul Alvin sambil senyum-senyum membayangkan ekspresi wajah adik perempuannya ketika bertemu dengan Rio nanti.

“Tapi, emangnya Ify masih inget sama gue?” tanya Rio pelan, nyaris terdengar seperti bisikan.

Alvin tertegun, menatap Rio dengan ekspresi aneh. Beberapa hari yang lalu dimalam itu ia sempat bertanya tentang Rio pada Ify. Tapi… Oh, benarkah Ify telah melupakan lelaki ini? Jangan sampai terjadi, dan tidak boleh terjadi sampai kapan pun juga. Rio sudah membela-belakan datang ke Indonesia demi bertemu dengan gadis itu. Jangan sampai…

”Vin, kok diem? Jangan-jangan beneran yang gue katain tadi kalo Ify…” Rio menghela napas berat. “Udah lupa sama gue…”

Alvin menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Oh, itu… Nggak, Ify nggak lupa kok sama loe, tenang aja…” sahut Alvin.

***

Malam harinya…

“Fy, kamu tunggu yah di kost-kostan kamu. Sekitar jam satu kalau nggak jam dua kamu harus bangun. Oke, kakak punya kejutan untuk kamu. Ajak Sivia juga, kamu nunggu di depan kostan aja…” kata Alvin yang sedang berbicara pada adiknya lewat telpon, setelah beberapa saat akhirnya Alvin langsung memutuskan hubungan.

“Gimana?” tanya Rio.

“Ya, Ify sih oke-oke aja…” jawab Alvin.

“Ee, tapi apa nggak kasian gitu nyuruh Ify sama Sivia bangun tengah malem kayak gitu? Mendingan besok pagi aja kita berangkat…” kata Rio ragu.

“Udah deh, nggak apa-apa. Ayo, berangkat… Eh, pake mobil loe kan? Hehehe…” kata Alvin.

Rio mengacungkan jempolnya. “Iya dong, emang loe mau naik bus desak-desakan gitu? Bayar lagi, mendingan sama gue aja deh. Oiya, loe udah pamit belum sama orang tua loe?” tanya Rio.

“Hehe, nggak sih… Udah kok, tadi sore. Yaudah ayo deh berangkat…” kata Alvin sambil menyeret lengan Rio kearah mobil Rio.

Setelah keduanya sudah masuk kedalam mobil, mereka berdua langsung menuju Jakarta dengan mobil yang dikemudi oleh Rio. Dalam perjalan perasaan Rio begitu sangat gembira. Ia sungguh tidak sabar bertemu dengan gadis itu, gadis itu panti tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dewasa. Rio tersenyum membayangkan Ify.

Namun anehnya, ditengah-tengah perjalanan menuju jakarta, mendadak menjadi hujan. Hujan dimalam itu begitu sangat deras. Angin bertiup sangat kencang. Beberapa ranting pohon patah. Daun berterbangan kemana-mana tanpa arah.

“Duh, kok hujan gini sih?” gerutu Alvin.

Rio cuek, ia tak memperdulikan ucapan Alvin. Walaupun malam ini hujan, semuanya tidak menutup perasaan bahagianya yang dirasakannya saat ini. Hatinya sangat bahagia. Sangat sangat bahagia. Setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu dengan seseorang akhinya kini ia bertemu lagi dengan orang itu. Alyssa Saufika Umari, orang yang sangat ia rindukan.

Kalau saja Rio berani mengungkapkan perasaannya yang kini ia rasakan pada Ify, mungkin hatinya sedikit lega. Tak akan tertekan seperti ini karena sudah menyimpan perasaannya pada Ify sejak lama.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Rio sangat merindukan Ify.
Kalau boleh jujur, Ify adalah orang yang paling disayangi Rio.
Kalau boleh jujur, Ify adalah orang yang sangat berarti dalam hidup Rio.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Ify adalah orang yang dicintainya.
Alyssa Saufika Umari adalah cinta pertamanya…

Rio tersenyum kecil sampai tidak menyadari kalau dirinya telah menambah kecepatan lagu mobil yang ia kendarai.

“Yo, jangan ngebut-ngebut ngendarainnya, lagi hujan. Bahaya…” kata Alvin.

Rio lagi-lagi tak memperdulikan perkataan Alvin. Ia sendiri bersama Alvin sekarang sedang berada di mobilnya yang dikemudinya yang membawanya ke suatu tempat dimana ia akan bertemu dengan Ify lagi. Diluar sana masih hujan deras seperti tadi. Bahkan semakin deras.

“Rio, Awas…” teriak Alvin keras.

Rio yang tidak lagi konsentrasi menyetir ketika mendengar jeritan Alvin sempat kaget. Bahkan sebelum ia menatap kearah di depannya terdengar suara keras luar biasa. Matanya terasa silau karena ada cahaya yang begitu sangat menyilaukan mata.

Namun anehnya, tiba-tiba saja Rio merasa suasana disekitarnya mendadak menjadi gelap. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa menjadi begitu. Ia juga tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Semuanya gelap. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Ia juga tidak ingat apa-apa. Juga tidak merasakan apa-apa. Terakhir yang ada dipikirannya adalah mendengar suara nyaring itu, jeritan Alvin kemudian gadis itu, Ify. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Ify saat itu. Ify pasti sudah menunggunya.

***

To Be Continued


| Free Bussines? |

0 komentar:

Post a Comment