Don't Love Me - Part 1
***
“Mas Steph. Kamu ini nakal banget sih!”
Seorang anak perempuan manis mengeluh kesal menatap teman — lebih tepatnya kakak kelasnya yang sedang cengengesan. Anak perempuan manis ini bernama Alyssa Saufika Umari, namun lebih akrab disapa Ify. Umurnya baru menginjak yang ke dua belas tahun dan baru duduk di bangku SMP kelas satu.
“Halah, cuma gitu aja kok…” kata seorang anak laki-laki pada Ify meledek dengan senyumnya yang membuat Ify malah menjadi semakin kesal. Anak laki-laki ini bernama Mario Stevano Aditya Haling. Akrab disapa dengan sebutan Mario atau Rio. Namun anehnya, anak perempuan yang sekarang berdiri di depannya ini —sekaligus menjadi ‘bahan’ kejahilannya malah menyapanya dengan nama “Steph”. Aneh bukan? Walaupun Rio anak laki-laki yang gak mudah GR atau semacamnya tapi ia merasa nama “Steph” adalah nama panggilam khusus Ify untuknya. Memang tidak berarti, tapi Rio selalu merasa nama itu berarti sekali karena Ify memanggil Rio dengan nama yang berbeda.
Ify menatap sosok manis didepannya sambil bergumam tak jelas. Ia meruntuki laki-laki yang menurutnya ‘super jail’ itu dalam hati. Matanya menatap jengkel Rio yang masih cengengesan. “Kalo jail bisa kali gak usah kelewatan. Mentang-mentang Mas Steph ini anak orang kaya dan aku anak orang miskin, Mas Steph bisa seenaknya aja gitu ngelakuin sesuka Mas…” marah Ify.
Rio berhenti cengengesan dan menatap Ify bingung. “Kok tumben kamu marah sama aku? Biasanya kamu biasa-biasa aja kalau aku jailin…” kata Rio bergumam tidak jelas.
“Kali ini, Mas Steph, kelewatan… Mas Steph tahu kan besok hari Selasa, dan seragamnya masih di pakai lagi, tapi Mas Steph malah ngotorin seragamku!” bentak Ify kesal. Ia menatap kemeja putihnya dan rok birunya yang kotor.
“Yadeh, aku minta maaf…” kata Rio pelan.
Ify mengangkat kepalanya, masih dengan tatapan sama. Kesal. Marah. Ia langsung meninggalkan anak laki-laki itu, berlari pelan menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.
***
Rio membuka pintu rumahnya yang ‘paling’ mewah di desa tempat tinggalnya, ia membuka dengan gerakan lambat. Penampilannya sangat terlihat tidak rapi. Kemeja putih yang dikenakannya keluar, kancing kemeja putihnya terbuka tiga yang memperlihatkan kaos dalamnya, dasinya juga tidak di pakai, rambut berantakan, sepatunya kotor.
Diruang tamu, kebetulan Wanita setengah baya yang ternyata adalah Ibu Rio menunggu disana. Kaget melihat penampilan Rio yang berantakan. “Sudah pulang, Rio? Kenapa berantakan seperti ini?” sapa wanita itu lembut, ia menarauh majalah yang dibacanya di atas meja dan berdiri kemudian menghampiri Rio.
Rio menatap wanita itu sinis. “Nggak usah sok baik! Baru tinggal seminggu aja udah sok…” kata Rio jutek dan menatap wanita setengah baya itu dengan pandangan tak suka. “Inget, Tante Amanda, kamu bukan Mamaku, kamu hanya Mama tiriku. Nggak usah sok perhatian sama aku. Karena sampai kapan pun, aku nggak bakalan menganggap Tante sebagai Mamaku walaupun tante sudah menikah dengan Papa, Inget itu!” lanjutnya semakin jutek.
Wanita itu berhenti berjalan, ia memang sudah terbiasa di bentak-bentak seperti itu oleh Rio dan Acel. Tetapi Acel sepertinya sudah mulai bisa menerima kehadirannya walapun terkadang masih sinis. Tetapi tidak dengan Rio, anak laki-laki ini tampaknya sangat tidak ingin merima kehadiran anggota keluarga baru, saking tidak inginnya menerima keluarga baru ketika wanita ini datang sebagai anggota keluarga baru Rio, laki-laki itu malah membencinya.
Kemudian Rio membuang muka, berjalan dengan santai menuju lantai dua tempat dimana kamarnya berada. Ia tidak memperdulikan wanita itu sebagai Ibu tirinya. Baginya, wanita itu adalah penghancur keluarganya.
***
“Lho, Dek, bajumu kenapa? Kok kotor gitu? Besok kan masih di pakai…”
Ify yang belum masuk rumah, ketika melihat Alvin berdiri di depan rumah ia sudah yakin pasti akan menanyainya mengapa bajunya bisa kotor. Padahal, Ify masih belum benar-benar sampai rumah, jaraknya kira-kira sekitar 10 meter dari rumahnya tapi Alvin sudah menyakan hal itu pada Ify. Alvin adalah kakak Ify.
“Heh, Mas mu ini nanya kenapa nggak di jawab?” sahut Alvin.
Ify mendecakkan lidahnya kesal, kemudian ia menatap kakak laki-lakinya itu. Hanya selisih satu tahun, kakaknya juga baru kelas delapan. “Bajuku kotor kayak gini gara-gara temen Mas Alvin…” kata Ify singkat.
Alvin mengerutkan kening. Bingung. Menatap Ify penasaran. “Siapa? Rio bukan?” tebak Alvin asal-asalan. Tidak tahu, yang ada dipikirannya saat itu hanyalah Rio karena yang ia tahu Rio lah yang sering menjaili Adik perempuannya ini.
“Iya lah, siapa lagi? Tadi Mas Steph nabrak aku dari belakang waktu pulang sekolah di deket pohon Mangga depan rumah Via terus aku kepleset sampe kepalaku kebentur pohon…” kata Ify bercerita.
“Itu bukan jail lagi namanya…” seru Alvin. “Bener-bener ya tuh anak. Maunya apa coba?” Alvin terbawa emosi. Ia paling tidak suka Adik perempuan yang sangat ia sayangi ini kenapa-kenapa. Ia paling tidak suka melihat Adik perempuannya ini sedih seperti ini.
“Udahlah aku capek, Mas. Mau istirahat dulu…” kata Ify meninggalkan Alvin dan masuk kedalam rumahnya yang sangat sederhana itu. Memang rumahnya tidak seperti Rio, rumahnya hanya terbuat dari batako bagian depan dan kayu di bagian belakang, itu pun rumahnya tidak di cat.
Masuk ke kamar, Ify langsung menaruh tasnya diatasnya meja belajar dan merebahkan diri di tempat tidurnya diatas kasur kapuk yang kapuknya sudah habis. Ia mengangkat tangannya memegang kepala, kepalanya masih terasa pusing gara-gara terbentur. Merasakan kepalanya yang pusing, ia jadi teringat dengan anak laki-laki yang nakal itu.
“Kenapa sih dia suka banget ngebuat aku kesel? Padahal masih banyak anak lainnya yang bisa dia jaili kenapa harus aku?” gumam Ify tidak jelas. Kali ini ia benar-benar kesal dengan anak laki-laki itu. Ia benci anak laki-laki itu. Suka seenaknya sendiri, mentang-mentang anak orang kaya.
“Dasar anak laki-laki sombong…” gerutu Ify, kemudian bangun. Ia baru sadar kalau ia belum berganti pakaian. Menyadari hal itu, Ify langsung berjalan menuju lemarinya dan memilih baju kemudian berganti pakaian.
Selesai berganti pakaian, ia keluar kamar menuju ruang tamu untuk menonton TV. Ternyata kakaknya juga berada disana, kakaknya sedang tidak sendirian tetapi bersama seseorang. Sivia. Nama orang itu, dia juga sahabat Ify sejak kecil. “Lho, Sivia, kapan kamu datengnya?” sapa Ify.
Alvin dan Sivia menoleh kearah Ify. Sivia tersenyum kecil. “Baru aja kok…” sahut Sivia ceria. “Oya, tadi kamu kenapa di depan rumahku? Kok marah-marah gitu sama Mas Rio? Baju seragammu kotor lagi…” lanjut Sivia bertanya, Sivia tadi melihat Rio dan Ify tapi sayangnya ia tidak mendengar percakapan mereka, ia hanya bisa melihat Ify yang sepertinya sedang marah-marah kepada Kakak Kelasnya itu, Rio.
“Seperti biasa…” sahut Ify kesal. “Via, kamu main sama Mas Alvin dulu ya, aku mau nyuci seragamku dulu…” kata Ify teringat seragamnya yang kotor. Niat awal yang ingin menonton TV tidak jadi karena mengingat seragamnya kotor dan belum di cuci. Ya, untung saja Sivia mengingatkannya.
“Oh, Iya deh…” sahut Sivia.
Ify tersenyum dan Sivia membalasnya, kemudian Ify membalikkan badan menuju belakang untuk mencuci seragamnya. Sedangkan Sivia dan Alvin duduk di ruang tamu. Ruang tamu rumah Alvin dan Ify tidak ada kursinya jadi Sivia dan Alvin duduk di bawah sambil menonton TV bersama.
Alvin mencuri pandang kearah Sivia yang duduk disebelahnya. “Eh, Vi, kelakuannya Dek Ify disekolah gimana sih? Sama nggak kayak yang dirumah?” tanya Alvin berbasa-basi. Ia tidak suka jika harus berdiam-diaman seperti tadi. Sebenarnya, selain tidak suka berdiam-diaman, Alvin menyukai sosok manis yang duduk di sebelahnya ini. Ah, Cinta monyet.
“Ya gitulah. Sama aja, tapi di sekolah Ify agak galak, hehe…” jawab Sivia disertai dengan cengirannya.
Dada Alvin mendadak berdebar-debar melihat cengir Sivia. “Masak sih? Tapi kayaknya lebih galak kamu deh dari pada Dek Ify, keliatan banget…” goda Alvin.
“Yee, enak aja. Aku kan lembut…” kata Sivia.
Alvin tertawa geli, tanpa sadar dadanya makin berdebar-debar semakin kencang. “Gimana nih hubungannya sama Sion?” tanya Alvin. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa di proses terlebih dahulu di otak. Pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan kepada Sivia.
“Sion? Oh, kami udah putus…” sahut Sivia pelan.
Alvin tersenyum senang. Ia langsung menoleh kearah Sivia, ia melihat wajah Sivia. Wajah anak perempuan itu sama sekali tidak menampilkan ekspresi sedih, wajahnya masih terlihat ceria seperti sebelumnya. Kalau boleh jujur, Alvin senang karena selain Sivia sudah putus dengan Sion, Sivia juga sama sekali tidak menampilkan ekspresi sedih. Bukankah itu baik? Artinya, Sivia tidak suka dengan Sion bukan? “Terus, rencananya mau nyari yang baru nih?” pancing Alvin.
Sivia mendesah pelan. Ia menolehkan kepalanya kesamping, tepat kearah Alvin. Matanya bertemu. “Nggak! Aku sama sekali tidak minat pacaran lagi, buat apa? Nggak ada gunanya, lagian aku juga baru kelas tujuh…” jawab Sivia.
Alvin tersenyum, ia merasa lega. Berarti Sivia sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki manapun. Ini adalah kesempatannya untuk bisa menarik hati Sivia.
***
“Kenapa harus pindah sih, Pa? Rio sudah betah tinggal disini. Kenapa harus pindah ke Amerika? Pasti gara-gara wanita itu yah, dia nyuruh Papa agar semuanya pindah, gitu? Pokoknya Rio nggak mau, Rio pengen tetep disini…”
Zeth Haling menatap anak laki-lakinya dengan menahan emosi. “Jangan salahkan Mama, dia sama sekali tidak menyuruh Papa meninggalkan Indonesia. Kamu ngerti kan? Kakek sudah meninggal dan karena Papa anak tunggal, semua warisan kakek diserahkan pada Papa dan Kakekmu ingin kita pindah ke Amerika…” jelas Zeth pada kedua anaknya.
“Aku setuju sama Dek Rio. Aku mau tinggal disini karena aku sudah betah tinggal disini walaupun disini Desa bukan Kota. Kalaupun pindah ke Amerika kenapa harus sama kita? Disini kan masih ada Paman dan bibi…” sahut Acel.
“Betul yang dikatakan Kak Acel…” kata Rio membela kakaknya.
“Paman dan Bibi itu hanya pembantu dirumah kita, mana mungkin Papa membiarkan kalian tinggal bersama mereka. Meskipun mereka sudah bertahun-tahun bekerja disini dan mereka juga dapat dipercaya, tapi Papa tidak bisa membiarkan kalian tinggal di Indonesia…” jelas Zeth. Ia melihat Rio mau berbicara, Tapi Zeth sudah mendahuluinya. “Pokoknya Papa tidak mau mendengar alasan dari kalian berdua lagi. Kalian harus ikut pindah ke Amerika, Papa juga sudah membeli tiketnya dan lusa kita sudah berangkat…” kata Zeth kemudian meninggalkan ruang keluarga dimana anggota keluarga penghuni rumah itu tinggal. Amanda juga ikut meninggalkan ruang keluarga.
“Ini nggak adil!” seru Rio kesal. Ia langsung berdiri dan keluar dari rumah, menuju sungai tempat yang ia suka kalau biasanya sedang kesal atau sedih. Sungai itu letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Di sungai itu, Rio duduk diatas baru besar pinggir sungai. Wajahnya merah menahan marah. Tangannya mengepal. Tiba-tiba perasaan itu muncul dalam hatinya. Perasaan takut kehilangan seseorang.
“Heh, kamu kenapa?” suara seseorang menyapanya dengan nada suara yang tidak bersahabat.
Rio langsung menoleh kesumber suara mendengar teguran itu. Orang itu adalah Ify, adik kelasnya yang sering ia jaili. Ia menatap anak perempuan itu, kemudian ia kembali menolehkan kepalanya ke depan kemudian menunduk.
“Mas Steph, kamu kenapa sih? Kok diem gini? Ada masalah?” tanya anak perempuan itu mendekati Rio dan duduk disebelah Rio. Kepalanya ia tolehkan kesamping menatap Rio yang masih menunduk.
“Aku… Minta maaf…” kata Rio pelan tapi suara itu begitu terdengar jelas di telinga Ify.
Ify bingung. Kaget. Senang. Heran. Nano-nano banget. Tumben-tumbennya Rio meminta maaf kepadanya, untuk apa? Kejadian tadi siang? Tidak mungkin. Kalau memang meminta maaf untuk kejadian yang tadi siang terasa konyol. “Ee, untuk apa?” tanya Ify.
“Semuanya…” jawab Rio.
“Kok tumben?” sindir Ify. Ia mendadak menjadi kesal lagi.
Rio tak menggubris. Ia menoleh kearah Ify. “Oya, yang tadi siang itu… Aku juga minta maaf, gara-gara aku seragammu jadi kotor…” kata Rio pelan.
Ify tersenyum, ia bingung sekali dengan tingkah Rio sekarang ini. Ah, pasti Rio hanya mengerjainya saja. Ya, pasti. “Oh, nggak apa-apa. Bajunya juga udah aku cuci kok, baru aja selesai…” kata Ify.
“Oya, makasih ya…” kata Rio.
Ify menaikkan alisnya. Heran. “Makasih? Untuk apa?” tanya Ify benar-benar bingung.
“Karena udah mau jadi temanku…” jawab Rio. “Kamu tetep mau kan tememan sama aku walaupun aku sering banget ngebuat kamu marah? Mau kan?” tanya Rio sambil tersenyum manis.
Ify mendadak gugup melihat Rio tersenyum. Ia baru menyadari kalau anak laki-laki didepannya ini mempunyai senyum yang cukup manis. “Ah, iya. Mas Steph kan memang temanku…” kata Ify.
“Makasih…” kata Rio kembali tersenyum, lebih manis dari yang sebelumnya.
“Masama…” sahut Ify membalas senyum.
***
To Be Continued


0 komentar:
Post a Comment