About me

My Photo
No Name
Bacalah ceritaku, meskipun tidak sebagus karya ICL lainnya, tapi aku ingin karyaku dibaca dan di hargai :)
View my complete profile
Feeds RSS
Feeds RSS

Wednesday, January 18, 2012

Don't Love Me - Part 3

Don't Love Me - Part 3

***

Hari ini mungkin adalah yang sangat mengejutkan bagi Sivia Azizah. Bagaimana tidak? Gabriel Stevent Damanik, cowok terpopuler di SMA Pertiwi —sekolah Sivia dan Ify— telah menyatakan cinta pada Sivia di tengah-tengah lapangan. Ini sangat memalukan bagi Sivia. Sangat. Kenapa? Karena lelaki itu benar-benar sangat nekat. Di tengah-tengah lapangan, tepat pada saat itu banyak sekali siswa-siswi yang menonton. Entah dengan cara seperti apa, Sivia benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya saat ini. Kini, gadis itu —Sivia Azizah tentunya— sedang terdiam seperti patung, menatap bengong kearah Gabriel yang sedang menatapnya. Ini gila.

Ify menyenggol lengan Sivia pelan, mendekatkan wajahnya ke telinga Sivia dan membisiki sesuatu ke telinga gadis yang sedang terbengong-bengong itu. “Heh, jangan bengong gitu aja. Di jawab kek, Kak Gabriel kan nyuruh kamu dateng ke tengah lapangan nyuruh kamu ngasih jawaban ke dia. Buruan samperin, terima aja langsung si Kak Gabrielnya, lagian Kak Gabriel lumayan ganteng kok…” bisik Ify sambil terus menyenggol lengan Sivia dengan perasaan gemas. Ada yang berbeda mungkin dari Ify, Ify tidak lagi memanggil laki-laki yang lebih tua darinya dengan nama “Mas” seperti yang dia panggil di desanya, malah sekarang sudah memanggil dengan nama “Kak”. Bukan apa-apa, tapi Ify kesal karena sewaktu ia baru pinbdah ke Jakarta ia dan Sivia sempat diejek kampungan oleh teman-temannya gara-gara memanggil Alvin dengan nama “Mas Alvin”. Siapa yang coba yang merasa tidak kesal di panggil dengan sebutan ‘Kampungan’?

Sivia masih diam tak bergeming. Dia masih menatap Gabriel yang berdiri ditengah-tengah lapangan. Jantungnya berdebar begitu sangat kencang. Baru kali ini ada seseorang yang menyatakan cintanya di depan orang banyak. Tiba-tiba ia melihat Gabriel berjalan menuju ke… Arahnya, mungkin. Ya, sepertinya memang kearahnya karena sejak tadi Gabriel masih memandangnya. Mata mereka bertemu dan keduanya juga saling tak melepas pandangan mata itu.

Untuk kesekian kalinya, Ify menyenggol lengan Sivia. Namun, kali ini ada keras sampai-sampai Sivia terdorong kesamping. Ify juga kembali mendekatkan kepalanya kearah Sivia, membisiki sesuatu ke telinga gadis itu. “Bodoh banget sih kamu, Vi. Kak Gabriel nyamperin kamu nih. Kamu sih di suruh nyamperin Kak Gabriel nggak mau…” gerutu Ify gemas. Ify menggeser beberapa langkah ke arah samping untuk menjauhi dirinya dari Sivia ketika merasa Gabriel sudah benar-benar dekat kearahnya —lebih tepatnya kearah Sivia.

“Ee, gimana jawabannya? Aku siap terima jawaban apapun yang kamu berikan…” kata Gabriel. Suaranya lembut, Sivia suka sekali dengan cara Gabriel. Tidak seperti kebanyakan cowok-cowok lain. Lebih suka melakukan dengan cara memaksa, dan apapun caranya agar menerima.

Sivia menundukkan kepalanya. Bingung. Kepalanya berputar lebih cepat, yang ada di pikirannya hari ini hanyalah apa yang harus ia jawab? Apakah menerima atau menolak. Kalau seandainya Sivia menerima, ia masih merasa belum yakin. Ia belum mengenal lelaki ini. Kalau seandainya di tolak, ia takut jika ia suatu saat nanti ia akan jatuh cinta pada lelaki ini dan menyesal karena sudah menolak. Kini perasaannya sangatlah bimbang. Selain pemikiran itu, masih banyak pikiran lain yang ada dalam pikirannya. Gabriel adalah cowok populer kan? Ia takut jika menerima ia malah sakit hati. Banyak sekali bukan yang mengagumi Gabriel? Yang menyukai Gabriel? Siapa tahu dengan kepopulerannya di sekolah membuat lelaki itu menjadi P-L-A-Y-B-O-Y. Tetapi ia juga takut jika ia menolak, sama seperti alasan yang sebelumnya. Ia takut jika ia menolak di suatu saat nanti ia malah menyukai lelaki ini. Perasaannya bimbang.

Gabriel juga diam, ia menunggu gadis di depannya ini mengucapkan sesuatu kepadanya. Ia tahu jawaban apa yang nantinya Sivia berikan. Menolak. Ya, itu yang Gabriel pikirkan sejak tadi. Ia takut kalau yang ia pikirkan itu benar. Tapi ia merasa ia juga salah, ia menyatakan perasaannya di waktu yang tidak tepat. Ini terlalu cepat untuk menyatakan perasaannya pada Sivia. Kenapa? Gabriel belum mengenal Sivia, memang sejak awal Sivia masuk menjadi siswi baru SMA Pertiwi Gabriel sudah luluh pada gadis manis ini. Dia tidak bisa memendam perasaannya lebih lama lagi maka dari itu ia menyatakan cintanya pada Sivia sekarang. Mau sampai kapan? Ia sendiri sudah kelas dua belas dan gadis itu kelas sebelas. Sudah setahun lebih ia menyimpan perasaan ini. Tapi kenapa hatinya berkata ia terlalu cepat menyatakan perasaannya? Kenapa?

“Ee, Kak…” kata Sivia membuka suara.

Mendadak ketika Sivia membuka suara, suara disekelilingnya menjadi sangat ramai. Semua siswa-siswi yang menonton menyorakinya dengan histeris. Banyak yang menyuruhnya untuk menerima Gabriel menjadi pacarnya. Ah, terlalu lebay sekali. Begitulah yang Ify pikirkan saat ini. Matanya juga tak lepas dari Gabriel dan Sivia.

“Maaf.” kata Sivia pelan nyaris terdengar seperti bisikan.

DEG. Jantung Gabriel berdebar semakin kencang. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin ini akan terjadi padanya, yang ia pikirkan ternyata benar-benar terjadi. Astaga, bagaimana ini? Ia tahu benar apa yang bakalan Sivia jawab. Ia takut. Ia ingin sekali menaik kata-katanya lagi, lebih baik ia tidak mengatakannya kalau akhirnya akan membuatnya sakit hati, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan ia harus bisa menerima jawaban apapun yang Sivia jawab nantinya. Tiba-tiba dadanya mulai menyesak, padahal Sivia belum mengatakan apapun, belum menjawab. Tetapi kata “Maaf” yang di ucapkan gadis itu adalah kata awal sebelum gadis itu benar-benar menolaknya. Gadis itu akan meminta maaf dulu kepadanya sebelum menolak. Meminta maaf karena tidak bisa menerimanya. Benarkah begitu? Astaga…

“Aku nggak bisa nerima. Maaf Kak Gabriel, tapi aku harap kakak nggak benci sama aku gara-gara aku nolak kakak…” kata Sivia membungkukkan badan dan berulang-ulang ia meminta maaf pada kakak kelasnya ini.

Hati Gabriel mencelos. Sakit rasanya, terasa sangat hampa. Baru kali ini ia di permalukan sekaligus di tolak oleh seorang cewek. Ia baru tahu, ternyata rasa sakit hati seperti ini. Sangat sakit, nyeri sekali… Tetapi, perasaan itu tidak mungkin ia tunjukkan kepada Sivia dan teman-temannya yang menontonnya dengan Sivia. Ia pasti akan dianggap lemah. Tidak. Ia laki-laki jadi ia harus kuat. Perlahan, ia menarik napas dan menghembuskannya. Kemudian ia menatap Sivia, tepat dimatanya. “Ya, nggak apa-apa. Aku nggak akan benci sama kok sama kamu, tenang aja…” kata Gabriel berusaha tersenyum.

Ya, Sivia menolak Gabriel. Mungkin inilah satu-satunya cara yang terbaik. Ia tidak mungkin menerima Gabriel gitu saja. Memangnya Sivia cewek gampangan yang mudah menerima cowok setiap ada cowok yang menyatakan cinta padanya dan memintanya untuk menjadi kekasihnya? Sivia tidak seperti itu. Enak saja. Tapi, didalam hatinya masih ada perasaan bersalah. Ia telah membuat seseorang sakit hati gara-gara dirinya. “Ya, aku pegang kata-kata kakak…” setelah berkata seperti itu, Sivia mendekati Ify dan mengajak Ify pergi dari tempat itu.

Siswa-siswi yang melihat kejadian itu menyoraki Sivia. Dasar cewek sok jual mahal. Begitulah pemikiran kebanyakan siswi yang melihat. Sayang sekali, cowok sepopuler Gabriel di tolak oleh gadis itu. Andai yang menjadi  Sivia saat itu adalah siswi-siswi itu, pasti mereka tidak akan menolak. Ah, dasar memang Sivia bodoh. Lagi-lagi pikiran itu yang muncul dalam benak siswi-siswi yang melihat. Menatap Sivia dengan pandangan tak suka bercampur iri kemudian menatap Gabriel dengan pandangan kasihan. Tetapi tidak ada satu pun siswa maupun siswi yang mengledek Gabriel gara-gara di tolak.

Ya, Gabriel mulai bisa menerimanya. Meskipun hatinya masih terasa nyeri, ia berusaha untuk meninggalkan tempat itu. Percuma saja berdiri dalam diam di tempat itu. Sekali lagi ia katakan, baru kali ini ia dipermalukan sekaligus di tolak. Sakit rasanya…

***

Pulang sekolah, Alvin datang ke tempat kost Ify dan Sivia. Tempat kost Alvin dengan kedua gadis itu memang berbeda, mereka —Alvin, Ify dan Sivia— sengaja memilih tempat kost khusus yang sejenis (?). Maksudnya tempat kost khusus cewek sendiri dan khusus cowok sendiri. Tidak di campur cewek dan cowok menjadi satu (?). Kebetulan jarak tempat kost Alvin dengan kedua gadis itu tidak jauh, jadi Alvin hanya perlu berjalan kaki saja untuk menghemat biaya.

“DEK IFY!” seru Alvin di depan pintu kost Ify. Ia juga tidak mengetuk pintu kost Ify malah langsung duduk di kursi depan kost Ify. Lama menunggu karena tidak ada yang membuka pintu, Alvin mulai merasa sebal. Tiba-tiba ia mendengar ada suara pintu dibuka, ia menolehkan kepalanya. Bukan pintu kost Ify, malah pintu kost Sivia. Alvin langsung berdiri dan memasang wajah yang berbinar-binar. Tapi tidak bertahan lama, karena mengingat kejadian siang tadi disekolahnya.

“Kak Alvin. Ngapain kak? Nyari Ify? Ify lagi keluar tuh sama Agni nemenin Agni beli buku…” sapa Sivia sambil tersenyum, gadis itu berjalan mendekati Alvin kemudian duduk disebelah Alvin.

“Oh, gitu?” sahut Alvin pelan. Kemudian ia menatap Sivia dan bertanya. “Kok kamu nggak ikut sama Dek Ify sama Dek Agni? Tumben? Biasanya kan kalau kemana-mana gitu bareng terus sama Dek Ify, lengket kayak perangko…” canda Alvin sambil tertawa renyah.

“Tadi aku ngantuk banget jadi nggak ikut, hehehe…” kata Sivia sambil tertawa.

Alvin merasa jantungnya nyaris copot melihat senyum Sivia. Senyumnya begitu sangat manis dan menggoda. Ingin rasanya Alvin ikut tersenyum karena melihat senyum gadis manis ini, ternyata memang iya, Alvin juga ikut tersenyum. Senyumnya benar-benar menular. “Oya, Vi, disekolah tadi kamu di tembak kan sama Gabriel? Selamat ya. Jangan lupa PJ nya, hehe…” kata Alvin berusaha tertawa meskipun dengan terpaksa. Tadi, Alvin memang tidak melihat kejadian itu sampai habis, tidak mendengar jawaban Sivia. Ia takut, jika mendengar akan membuat hatinya sakit. Ia yakin Sivia pasti menerima Gabriel. Tidak mungkin Sivia menolak cowok sepopuler Gabriel? Tidak mungkin. Maka dari itu, ia tidak melihat sampai selesai dan buru-buru kembali ke kelas, terakhir kali yang dilihatnya adalah sewaktu Gabriel menghampiri Sivia.

Sivia mengerutkan keningnya. Bingung. “Lho, kok ngucapin selamat? Minta PJ lagi. Aneh deh, Kak Alvin ini…” kata Sivia sambil tertawa kecil. “Aku kan nolak Kak Gabriel. Kami nggak jadian kok, yee…” lanjut Sivia tertawa geli. Kenapa bisa laki-laki ini mengira Sivia menrima Gabriel? Jelas-jelas tadi Sivia menolak Gabriel. Ini aneh.

Alvin mengangkat wajahnya menatap Sivia. Kaget. Bingung. Heran. Senang. Semuanya bercampur menjadi satu. Benarkah apa yang baru saja Sivia katakan? Sivia menolak Gabriel? Sungguh? Alvin hampir tidak percaya ketika Sivia mengatakan hal ini, tapi ia juga tidak bisa memendan rasa senangnya. Sivia pintar telah menolak Gabriel, berarti masih ada kesempatan untuk dirinya mendapatkan Sivia bukan? Ya, pasti. Tapi ada perasaan aneh yang mengganjal dalam hatinya. Sivia menolak Gabriel? Gabriel yang sepopuler itu ditolak, Gabriel yang lebih tampan dan banyak dikagumi oleh banyak gadis telah Sivia tolak. Bagaimana kalau dirinya? Ia tidak yakin. Dirinya justru malah tidak seberapa dibandingkan dengan Gabriel. Kalau Gabriel di tolak, tentu saja ia pasti juga akan di tolak. Begitu?

“Hei!” kata Sivia membuyarkan lamunan Alvin. “Diajak ngobrol kok malah ngelamun, ngelamunin siapa sih?” lanjut Sivia bertanya.

Alvin terdasar, ia langsung menatap gadis itu. “Eh? Nggak ngelamunin siapa-siapa kok, hehehe…” jawab Alvin sambil tersenyum masam. “Oya, Vi, aku… Lebih suka kamu manggil aku dengan sebutan‘Mas Alvin’  dari pada ‘Kak Alvin’ . Panggil aku ‘Mas Alvin’  aja ya?” lanjut Alvin mengalihkan pembicaraan.

Sivia memiringkan kepalanya. Menimbang-nimbang. “Emm, iya deh, Mas Alvin. Emang kenapa harus manggil ‘Mas’ ?” tanya Sivia penasaran. Matanya juga tak lepas sedari dari terus memandang sosok tampan yang duduk disebelahnya. Wajahnya tampan dan jika dipandang terus-menerus tidak akan pernah bosan. Ya, wajah lelaki itu sama sekali tidak membosankan.

Alvin tersenyum. “Ya, suka aja…” sahutnya pelan sambil mengacak-acak poni Sivia.

“Hei, kalian. Pacaran aja terus…” ledek seseorang dari arah jauh menghampiri Alvin dan Sivia. Orang ini adalah Ify, dia baru saja selesai membeli buku bersama Agni. Agni juga ikut dengannya, tetapi ia hanya tersenyum kecil melihat Alvin dan Sivia yang tampaknya sedang asyik mengobrol.

“Ify? Lama sekali sih?” gerutu Sivia pura-pura kesal.

“Lama atau lama? Oh, jangan-jangan kesel gara-gara aku dan Agni datang terlalu cepet ya? Sampe-sampe kamu marah gara-gara obrolannya sama Kak Alvin keganggu, hayoo…” goda Ify sambil tertawa lebar.

“Apa sih?” seru Sivia membuang muka, kesal. Wajahnya kali ini sudah memerah.

“Hahaha… Ketahuan tuh, hayo ngaku. Kamu suka kan sama kakakku? Hahaha…” goda Ify lagi.

Sivia tak menyahut, malah memajukan bibirnya beberapa centi. Alvin dan Ify tertawa terbahak-bahak sedangkan Agni hanya tersenyum kecil, menganggap adegan di depannya ini sama sekali tidak begitu lucu.

***

Alvin dan Ify duduk di kursi depan kost Ify, hari sudah larut tapi Alvin masih belum pulang. Sivia tampaknya sudah mulai tertidur, Ify dan Alvin sendiri masih asyik mengobrol di depan kost Ify. Tiba-tiba Alvin teringat sesuatu, isi email dari teman lamanya. Ia buru-buru menatap Ify dan mengatakan tentang itu.

“Fy, kamu inget nggak sama Rio?” tanya Alvin.

Rio? Nama asing bagi Ify. Nampaknya, Ify sama sekali tidak pernah mengenal nama itu. Siapa dia? Siapa Rio? “Hah? Rio? Siapa tuh Rio?” tanya Ify bingung.

***

To Be Continued

| Free Bussines? |

0 komentar:

Post a Comment