About me

My Photo
No Name
Bacalah ceritaku, meskipun tidak sebagus karya ICL lainnya, tapi aku ingin karyaku dibaca dan di hargai :)
View my complete profile
Feeds RSS
Feeds RSS

Wednesday, January 18, 2012

Don't Love Me - Part 5

Part 5

***

Alvin mengetuk pintu rumahnya. Senyumnya yang begitu manis tak lepas dari wajahnya, ketika mengetuk pintu dan ada orang yang membukakan pintu ia yakin pasti ia langsung memeluk orang itu. Orang yang sudah ia rindukan sejak lama. Ibu dan Bapaknya. Sudah hampir setengah tahun Alvin tidak bertemu dengan kedua orang tuanya yang begitu sangat ia sayangi.

Tok… tok… tok…

Alvin membuka pintu rumahnya, dan benar. Begitu Ibunya membuka pintu lantas Alvin langsung melepaskan tasnya yang ia genggam dan langsung memeluk Ibunya. “Ibu, Alvin kangen…” begitulah yang dikatakan lelaki ini pada Ibunya begitu lelaki ini telah memeluk Ibunya.

“Lho, kok kamu pulang, Vin? Emangnya udah liburan?” tanya sang Ibu pada Alvin sambil melepaskan pelukan Alvin. Kemudian matanya melirik kearah belakang Alvin dan alisnya terangkat sebelah. “Lho, Vin. Ify mana? Kok nggak ada? Dia nggak ikut?” tanya Ibunya.

Alvin tersenyum kecil. “Oh, itu. Nggak, Bu, Ify nggak ikut. Alvin kesini bukan untuk liburan pulang ke kampung tapi Alvin mau ngejemput seseorang…” jawab Alvin sambil tersenyum kecil.

“Siapa?”

Rio…”

Rio?”

Alvin tersenyum melihat Ibunya tampak heran mendengar nama “Rio”. Kemudian ia mulai berbicara lagi. “Itu, lho, Bu. Temennya Alvin waktu masih kecil… Yang terus tuh anak pindah ke Amerika, dulu dia sering banget jailin Ify sampe Ify nangis. Dan sekarang, Rio udah pulang, Bu…” jawab Alvin.

“Owalah, Rio anaknya Pak Zeth itu? Iya, kemarin Ibu juga ngeliat dia dirumahnya yang lama itu…” kata Ibunya.

“Beneran, Bu?” tanya Alvin, senyumnya mengembang.

“Iya, Vin…” jawab Ibunya.

Alvin buru-buru memasukkan tasnya kedalam rumah kemudian berseru pada Ibunya yang sedang menatapnya heran. “Bu, Alvin kerumahnya Rio dulu deh kalo gitu…” katanya.

“Nggak istirahat dulu? Kan baru nyampe…” kata Ibunya.

“Nggak usah Bu…” kata Alvin.

Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah anak laki-lakinya yang tidak berubah itu. Memandang punggung Alvin yang semakin menjauh dari rumahnya sampai lelaki itu berbelok dan menghilang. Ibunya lagi-lagi tersenyum.

***

Alvin nyaris saja tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat didepan matanya. Mulutnya menganga lebar dan matanya terbelalak, jantungnya terasa seperti tidak berderak lagi. Orang yang dicarinya dan merela-relakan pergi ke desanya demi teman lamanya kini telah berubah drastis. Seorang temannya yang sangat jail itu berubah menjadi lelaki tampan, jauh lebih tampan dari dugaannya yang sebelumnya bahkan mengalahkan ketampanan Alvin.

“Loe… Rio?” tanya Alvin bodoh sambil mengamati lelaki yang dipanggil dengan nama Rio itu dari bawah sampai atas.

Rio tersenyum tipis, kemudian melepaskan kacamata hitam yang dipakainya. Menatap Alvin dengan mata berbinar, senyumnya begitu sangat manis. “Yaiyalah, gue Rio. Masak loe udah lupa sama gue, nggak mungkin kan? Lagian kita juga sering kan ngobrol lewat email?” jawab Rio santai. “Ify mana?” tanya Rio.

Alvin tersenyum jahil. “Kayaknya dugaan gue selama ini bener deh kalo loe… Suka sama adik gue? Ngaku aja, haha…” kata Alvin tertawa renyah.

Rio tersenyum malu. “Ya, begitulah. Aku… Memang udah suka sama Ify sejak kecil, sebelum aku dan keluargaku pindah ke Amerika…” sahut Rio pelan sambil menutupi rasa malunya yang sudah ketahuan sama Alvin.

Lagi-lagi Alvin tertawa.

“Ify mana?” tanya Rio mengulangi pertanyaannya yang belum sempat Alvin jawab. “Dia nggak ikut kesini?” tanya Rio, wajahnya berubah menjadi raut wajah kecewa.

“Nggak, Yo, loe sama gue ikut aja ke Jakarta. Kita bikin surprise buat Ify…” usul Alvin sambil senyum-senyum membayangkan ekspresi wajah adik perempuannya ketika bertemu dengan Rio nanti.

“Tapi, emangnya Ify masih inget sama gue?” tanya Rio pelan, nyaris terdengar seperti bisikan.

Alvin tertegun, menatap Rio dengan ekspresi aneh. Beberapa hari yang lalu dimalam itu ia sempat bertanya tentang Rio pada Ify. Tapi… Oh, benarkah Ify telah melupakan lelaki ini? Jangan sampai terjadi, dan tidak boleh terjadi sampai kapan pun juga. Rio sudah membela-belakan datang ke Indonesia demi bertemu dengan gadis itu. Jangan sampai…

”Vin, kok diem? Jangan-jangan beneran yang gue katain tadi kalo Ify…” Rio menghela napas berat. “Udah lupa sama gue…”

Alvin menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Oh, itu… Nggak, Ify nggak lupa kok sama loe, tenang aja…” sahut Alvin.

***

Malam harinya…

“Fy, kamu tunggu yah di kost-kostan kamu. Sekitar jam satu kalau nggak jam dua kamu harus bangun. Oke, kakak punya kejutan untuk kamu. Ajak Sivia juga, kamu nunggu di depan kostan aja…” kata Alvin yang sedang berbicara pada adiknya lewat telpon, setelah beberapa saat akhirnya Alvin langsung memutuskan hubungan.

“Gimana?” tanya Rio.

“Ya, Ify sih oke-oke aja…” jawab Alvin.

“Ee, tapi apa nggak kasian gitu nyuruh Ify sama Sivia bangun tengah malem kayak gitu? Mendingan besok pagi aja kita berangkat…” kata Rio ragu.

“Udah deh, nggak apa-apa. Ayo, berangkat… Eh, pake mobil loe kan? Hehehe…” kata Alvin.

Rio mengacungkan jempolnya. “Iya dong, emang loe mau naik bus desak-desakan gitu? Bayar lagi, mendingan sama gue aja deh. Oiya, loe udah pamit belum sama orang tua loe?” tanya Rio.

“Hehe, nggak sih… Udah kok, tadi sore. Yaudah ayo deh berangkat…” kata Alvin sambil menyeret lengan Rio kearah mobil Rio.

Setelah keduanya sudah masuk kedalam mobil, mereka berdua langsung menuju Jakarta dengan mobil yang dikemudi oleh Rio. Dalam perjalan perasaan Rio begitu sangat gembira. Ia sungguh tidak sabar bertemu dengan gadis itu, gadis itu panti tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dewasa. Rio tersenyum membayangkan Ify.

Namun anehnya, ditengah-tengah perjalanan menuju jakarta, mendadak menjadi hujan. Hujan dimalam itu begitu sangat deras. Angin bertiup sangat kencang. Beberapa ranting pohon patah. Daun berterbangan kemana-mana tanpa arah.

“Duh, kok hujan gini sih?” gerutu Alvin.

Rio cuek, ia tak memperdulikan ucapan Alvin. Walaupun malam ini hujan, semuanya tidak menutup perasaan bahagianya yang dirasakannya saat ini. Hatinya sangat bahagia. Sangat sangat bahagia. Setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu dengan seseorang akhinya kini ia bertemu lagi dengan orang itu. Alyssa Saufika Umari, orang yang sangat ia rindukan.

Kalau saja Rio berani mengungkapkan perasaannya yang kini ia rasakan pada Ify, mungkin hatinya sedikit lega. Tak akan tertekan seperti ini karena sudah menyimpan perasaannya pada Ify sejak lama.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Rio sangat merindukan Ify.
Kalau boleh jujur, Ify adalah orang yang paling disayangi Rio.
Kalau boleh jujur, Ify adalah orang yang sangat berarti dalam hidup Rio.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Ify adalah orang yang dicintainya.
Alyssa Saufika Umari adalah cinta pertamanya…

Rio tersenyum kecil sampai tidak menyadari kalau dirinya telah menambah kecepatan lagu mobil yang ia kendarai.

“Yo, jangan ngebut-ngebut ngendarainnya, lagi hujan. Bahaya…” kata Alvin.

Rio lagi-lagi tak memperdulikan perkataan Alvin. Ia sendiri bersama Alvin sekarang sedang berada di mobilnya yang dikemudinya yang membawanya ke suatu tempat dimana ia akan bertemu dengan Ify lagi. Diluar sana masih hujan deras seperti tadi. Bahkan semakin deras.

“Rio, Awas…” teriak Alvin keras.

Rio yang tidak lagi konsentrasi menyetir ketika mendengar jeritan Alvin sempat kaget. Bahkan sebelum ia menatap kearah di depannya terdengar suara keras luar biasa. Matanya terasa silau karena ada cahaya yang begitu sangat menyilaukan mata.

Namun anehnya, tiba-tiba saja Rio merasa suasana disekitarnya mendadak menjadi gelap. Ia sendiri tidak tahu kenapa bisa menjadi begitu. Ia juga tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu. Semuanya gelap. Ia tidak bisa melihat apa-apa. Ia juga tidak ingat apa-apa. Juga tidak merasakan apa-apa. Terakhir yang ada dipikirannya adalah mendengar suara nyaring itu, jeritan Alvin kemudian gadis itu, Ify. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Ify saat itu. Ify pasti sudah menunggunya.

***

To Be Continued

[ Read More.. ]

Forgive Me, Sister - Sinopsis



Forgive Me, Sister - Sinopsis

***

Sinopsis :

Mario Stevano Aditya Haling. Nama lelaki itu, lelaki yang tampan dan penuh karisma membuatnya menjadi seorang lelaki yang begitu sempurna di mata kaum para gadis disekolahnya. Tak heran jika banyak sekali yang menyukai lelaki hitam manis ini bahkan sekalipun banyak yang memperebutkan lelaki ini. Tak hanya di lingkungan sekolahnya saja yang menyukai lelaki ini, para gadis di luar sekolah atau lebih tepatnya yang berbeda sekolah dengan Rio banyak juga yang menyukainya. Salah satu dari banyaknya gadis yang menyukai lelaki tampan ini adalah Alyssa Saufika Umari dan Ashilla Zahrantiara.

Alyssa Saufika Umari dengan Ashilla Zahrantiara ini kakak beradik. Sang kakak bernama Shilla dan sang adik bernama Ify. Sifat kedua kakak beradik ini sangat bertolak belakang. Shilla adalah gadis yang ceria, selalu tersenyum dan tertawa setiap harinya, mempunyai banyak teman, sifatnya selalu terbuka tetapi sayangnya gadis ini terlalu mudah putus asa. Berbeda dengan Ify gadis yang cuek, egois, tidak perduli dengan orang-orang disekitarnya bahkan kakaknya sekalipun, sifatnya sangat tertutup ia tak pernah mencoba untuk lebih terbuka pada teman-temannya, bahkan sangat terlihat kalau gadis ini sama sekali tidak berminat untuk mempunyai teman. Hanya ada satu teman saja yang mau berteman dengan gadis dingin ini, dia adalah Agni Tri Nubuwati.

Awalnya sebelum Shilla mengenal Rio dan menyukai lelaki manis itu, Ify-lah yang terlebih dahulu mengenali Rio bahkan sebelum Rio dan Ify satu sekolah saat duduk dibangku SMA. Ify memang menyukai Rio, tetapi karena kebodohannya gadis ini malah memperkenalkan Rio dengan kakaknya. Menurut Ify itu adalah hal terbodoh yang pernah dilakukannya. Entah kenapa perasaannya saat itu mendadak menjadi sangat resah seakan hatinya memahami perasaan Ify dan berkata kalau Ify tidak akan bisa dekat dengan Rio. Mengapa?

Berbeda dengan Shilla, gadis ini ketika diperkenalkan dengan Rio langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pada lelaki hitam manis yang sangat tampan ini. Dari perkenalan dan pertemuan singkat itulah dari dalam hati keduanya mulai tumbuh benih-benih cinta. Bunga cinta yang tumbuh dalam hati Shilla seakan sudah mekar. Gadis ini benar-benar menyukai Rio. Tetapi sayangnya, ia sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan adiknya pada Rio. Maka dari itu, Shilla terus mencoba untuk mendekati Rio agar dirinya bisa lebih dekat dengan lelaki itu.

Sama halnya dengan Rio. Lelaki ini juga jatuh cinta pada Shilla pada pandangan pertama. Awalnya ia benar-benar tidak menyangka kalau sahabatnya -Ify- punya kakak dan kakak dari sahabatnya-lah yang membuatnya jatuh cinta. Mungkin banyak orang yang bilang kalau mereka sama sekali tidak percaya dengan adanya “Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama”  Namun itu semua menurut Rio adalah SALAH!! Buktinya, Rio sendiri jatuh cinta pada Shilla ketika saat Ify memperkenalkannya dengan gadis itu.

Dibalik sikap dingin Ify, gadis ini selalu memendam perasaannya pada Rio, ia tak mau membuat kakaknya marah dan kecewa padanya ketika kakaknya tau kalau ia suka pada Rio, gadis ini benar-benar sangat sayang pada kakaknya. Bahkan sampai rela mengorbankan perasaannya demi sang kakak. Hatinya terluka pun ia menerimanya asalkan kakaknya bisa bahagia. Itulah yang Ify inginkan, ia sama sekali tidak memperdulikan perasaannya yang hancur dan terluka. Sampai suatu saat datanglah seorang lelaki yang mulai bisa menghibur dan mengisi hari-hari Ify. Lelaki itu adalah Gabriel Stevent Damanik. Ify sendiri sepertinya mulai merasa nyaman dengan kehadiran lelaki itu dalam hidupnya walaupun terkadang ia bersikap begitu sangat dingin pada Gabriel. Perlahan, Ify bisa menghilangkan perasaannya pada Rio dan beralih pada Gabriel. Ify baru sadar kalau Gabriel ternyata mirip dengan Rio dan ia malah menyukai Gabriel. Ify memarahi dirinya sendiri, walaupun sudah bisa melupakan Rio dan menyukai Gabriel baginya itu sama saja, ia bodoh. Ify berpikir kalau ia menyukai Gabriel karena Gabriel sangat mirip dengan Rio. Ya, pasti begitu. Pemikiran inilah yang membuat Ify malah kembali suka pada Rio.

Sampai akhirnya, perasaan Ify sebenarnya diketahui oleh Rio. Dari situ, hubungan komunikasi antara Ify dan Rio merenggang. Ttak hanya dengan Rio, hubungan Ify dengan Shilla juga merenggang karena Shilla memusuhi Ify. Rio tertegun, tidak menyangka Ify melakukan itu semua padanya dan juga kakaknya. Padahal saat itu Rio dan Shilla sudah berpacaran. Demi membahagiakan kakaknya dan membuat hatinya sendiri terluka? Ify rela melakukannya? Rio marah pada dirinya, karena ia merasa ia telah melukai hati gadis itu. Tapi kini ia berada di dua pilihan yang sangat berat baginya. Jika ia memilih Shilla itu artinya ia harus melukai gadis yang sangat disayanginya, bahkan sebelum mengenal Shilla dan gadis itu pasti akan menjauhinya, pasti. Tetapi jika ia harus memilih Ify, itu artinya ia harus rela melepaskan Shilla dan membuat hatinya sendiri terluka juga membuat hati Shilla terluka.

Lalu, siapa yang akan Rio pilih diantara dua gadis yang cantik itu?

***

To Be Continued
[ Read More.. ]

Vengeance - Cerpen Bag.1

Vengeance - Cerpen Bag.1

***

Ify tersenyum tipis dan melambaikan tangan membalas sapaan siswa-siswi yang menyapanya ketika baru datang kesekolah. Ya, ini sudah menjadi kebiasaan Ify sehari-hari jika baru datang kesekolahnya, semua siswa-siswi selalu menyapanya. Ify memang sangat populer disekolahnya, populer karena kecantikannya membuatnya seolah menjadi ratu di sekolah. Tak heran jika banyak sekali siswa-siswi yang mengaguminya. Ify memang termasuk siswi paling cantik di sekolahnya dan tak ada yang bisa mengalahkan kecantikannya. Tetapi karena kelebihannya yang satu ini membuatnya menjadi gadis yang sombong dan egois. Tetapi meskipun gadis ini memiliki sifat yang sangat sombong dan egois, siswa-siswi di sekolahnya masih tetap menyukainya, masih tetap memperlakukannya layaknya seorang ratu disekolah dan Ify sangat penyukai hal ini. Semua siswa-siswi disekolahnya seperti tunduk kepadanya, tidak ada yang berani melawannya bahkan kekasihnya sekalipun. Seperti saat ini, ketika ia baru sampai disekolah banyak siswa-siswi yang langsung menyapanya. Ify hanya membalas dengan lambaian tangan dan tersenyum tipis. Ketika sibuk membalas sapaan siswa-siswi yang menyapanya Ify tidak sadar kalau ia telah menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya, membuat gadis ini terjatuh dan seperti telah dipermalukan.

“Sial!” umpat gadis ini kesal. Benar dugaannya, kini ia sudah mendengar beberapa bisikan mengenai dirinya. Ia benar-benar merasa seperti dipermalukan. Wajahnya memanas menahan marah. Dengan cepat ia memutar kepalanya menatap orang yang ia tabrak. Walaupun Ify yang menabrak orang itu tetap saja gadis ini tidak mau disalahkan, tidak mau mengakui kalau sebenarnya ialah yang menabrak orang itu. Dengan sikap angkuhnya ia berdiri kemudian berkacak pinggang dengan memasang wajah yang terlihat sangat sinis. “Heh, punya mata nggak sih loe?!” Ify membentak orang itu.

Orang yang di tabrak Ify berdiri, menatap dingin gadis itu. Tanpa mengucapkan sesuatu, orang ini langsungt pergi meninggalkan gadis itu. Tak memperdulikan gadis itu yang tengah marah padanya. Lagian ia merasa bukan ia yang salah lalu kenapa gadis itu yang marah? Seharusnya ialah yang lebih pantas untuk marah. Ia tahu gadis yang menabraknya ini adalah gadis populer dan mempunyai banyak penggemar. Percuma saja di tanggapi.

“Heh?! Loe tuli atau apa sih?!” marah Ify. Semua ‘para pengagum’ Ify langsung berhenti berbisik-bisik setelah mendengar bentakan Ify. Semua mata ‘pengangum’ Ify langsung menatap tajam kearah dimana orang itu sedang berjalan menjauhi Ify.

Orang itu memberhentikan langkahnya. Kemudian membalikkan badan menatap Ify yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal. Ia tahu gadis itu pasti benar-benar sangat kesal padanya dan tidak lama lagi ia pasti sudah mendapat biru-biru dan darah di wajahnya dari orang ketika gadis ini menyuruh orang untuk menghajarnya. Ya, gadis itu memang paling populer di sekolah tetapi hati-hati saja bila mendapat masalah dengan gadis itu. Sekarang, ia hanya bisa diam saja tak menyaut apa pun, menunggu ‘gadis sombong’ didepannya ini melanjutkan maksud dari perkataannya.

“Heh?! Loe bisu ya?! Hah?!” marah Ify, gadis ini terlihat benar-benar sangat jengkel.Ify menatap orang itu geram. Sejak tadi orang itu tidak berbicara apapun. Siapa yang tidak kesal dicuekin? Apalagi waktu Ify dipermalukan oleh orang itu. Benar-benar sial. Gadis yang satu ini benar-benar tidak mau disalahkan, kenapa? Lho, kalau saja orang itu memperhatikan jalan yang benar juga tidak mungkin kan Ify menabrak orang itu? Itulah salah satu alasan yang ada dalam benak Ify mengapa gadis itu tidak mau disalahkan.

Orang itu mendengus pelan mendengar hinaan Ify untuknya. Tadi ia dibentak dengan kata-kata kasar hinaan ‘tuli’, lalu sekarang gadis itu menghinanya ‘bisu’, bentar lagi apa? Pikun? Idiot? Atau apa? Jujur saja, ia paling benci jika dihina. Siapa yang tidak kesal dihina-hina oleh orang? Kalau yang salah diri sendiri tidak masalah, bisa menerima hinaan itu walaupun ada sedikit rasa marah gara-gara dihina. Tetapi kalau yang menghina orang yang salah? Siapa yang tidak kesal?

Ify sendiri masih menatap orang itu dengan perasaan yang masih sama dengan yang sebelumnya. Kesal. Marah. “Heh?! Cowok bego?! Loe ngedengerin gue ngomong nggak sih?!” lagi-lagi ia membentak lelaki itu. Ia melihat orang itu masih tidak merubah sikapnya, orang itu masih terlihat cuek di depannya. Salah satu hal yang Ify benci hanya satu, tepat yang disaat-saat seperti ini. Dicuekin. Tapi ada satu hal yang membuat Ify aneh. Orang ini kelihatannya sama sekali tidak tertarik dengannya, padahal rata-rata semua siswa di sekolahnya ini menyukainya, kagum padanya, tertarik padanya. Tetapi kenapa orang ini sama sekali tidak tertarik padanya? Memangnya Ify beda di mata orang itu?

Karena merasa tidak ada gunanya berbicara dengan ‘gadis sombong’ didepannya ini, orang itu kembali membalikkan badannya kemudian kembali melanjutkan langkah-langkah kakinya yang membawa menuju ke taman sekolah. Ia tidak menghiraukan beberapa pasang mata ‘pengagum’ ‘gadis sombong’ itu yang tengah menatapnya dengan pandangan tak suka. Orang ini terus menlanjutkan langkahnya menuju ketaman sekolah.

Ify benar-benar kesal, kakinya ia hentak-hentakkan dengan keras. Kemudian ia memanggil teman laki-lakinya. Beberapa gerombolan lelaki menghampirinya. Ify tersenyum tipis, dengan raut wajah yang masih sama —kesal, marah— ia berbicara pelan dan membisiki sesuatu pada teman laki-lakinya. “Hajar orang itu sampe mampus?! Biar tau rasa tuh orang, siapa sih namanya?! Berani banget tuh cowok?!” geram Ify menahan emosi ketika membisikkan sesuatu pada teman laki-lakinya.

“Sip deh, itu anak namanya Rio…” jawab salah satu seorang teman laki-laki Ify.

***

Rio duduk diatas bangku taman dengan posisi miring, kakinya ia selonjorkan kedepan. Kemudian ia langsung mengeluarkan komik yang baru dibelinya kemarin sore dan mulai membaca. Beberapa saat, Rio sudah tenggelam dalam dunianya sendiri membaca komik. Tak berlangsung lama untuk tenggelam dalam dunianya, karena tiba-tiba Rio merasa ada yang mendorong kasar tubuhnya dari samping sehingga membuatnya nyaris saja terjatuh dari bangku taman.

Nah, inilah saat yang sudah Rio duga. Rio melirik jamnya sekilas, belum ada setengah jam. Sudah datang segerombolan siswa —lebih tepatnya mungkin teman-temannya sendiri— yang sudah siap untuk menghajarnya. Ia tahu, gadis itu pasti akan menyuruh seseorang menghajar dirinya gara-gara perlakuannya tadi. Memangnya, dengan cara ini ia takut? Tidak. Itu salah besar. Rio sama sekali tidak takut dihajar oleh segerombolan teman-temannya sendiri. Ia bahkan rela dihajar sepuasnya oleh teman-temannya. Satu yang ada dalam pikirannya, ia tidak mau mencari masalah. Lagian yang mulai mencari masalah bukan dia kan?

“Heh?! Turuh loe?! Lawan kita kalo berani?!” tantang salah satu temannya yang wajahnya paling garang. Temannya yang memiliki wajah paling garang itu menatap Rio dengan tatapan sinis dan meremehkan seolah yakin kalau Rio akan tunduk padanya. Ketika Rio sudah berdiri sesuai yang orang ini perintahkan, orang ini langsung mengisyaratkan pada teman-temannya untuk langsung menghajar Rio sampai lelaki itu benar-benar ‘mampus’ sesuai dengan keinginan ratu sekolahnya. Melihat isyarat dari temannya yang memiliki wajah paling garang ini, ketiga temannya langsung menghampiri Rio dan menghajar lelaki itu.

Dua orang memegangan lengan Rio dengan keras bagian kiri dan kanan sedangkan yang satunya lagi bersiap untuk mendaratkan kepalannya dengan keras di sekitar tubuh Rio sesukanya. Pukulan pertama didaratkan di perut Rio dengan keras membuat lelaki itu meringis kesakitan, keduanya di dada bidang Rio membuat Rio merasa dadanya menyesak, ketiga pukulan didaratkan disekitar wajah Rio seperti pipinya membuat Rio mengeluarkan cairan kental berwarna merah dari hidung dan mulutnya ditambah dengan beberapa memar-memar berwarna biru kehitaman pada bagian wajahnya karena terlalu keras meninju wajah lelaki tampan ini.

Rio mulai merasa kesakitan, ia sudah tidak tahan dengan sakit yang begitu sangat nyeri pada bagian wajah, dada dan perutnya langsung menepis kasar kedua orang temannya yang sedang memegang lengannya dengan kuat. Rio membalas pukulan temannya pada bagian yang sama namun lebih keras. Temannya yang memiliki wajah paling garang terkejut melihat Rio membalas pukulan, tidak yang seperti ia kira. Rio ternyata dapat membuat ketiga temannya babak belur dalam sekejap. Tak heran jika Rio dapat membuat temannya sendiri babak belur dalam sekejap. Bela diri Karate dengan sabuk hitam membuatnya sangat mudah untuk membuat teman-temannya yang babak belur.

Tetapi temannya yang memiliki wajah paling garang itu sama sekali tidak terlihat takut, ia malah tertawa meremehkan Rio sambil bertepuk tangan pelan. “Pinter juga ya loe ngebuat temen gue babak belur. Hebat banget loe…” kata temannya ini. Entah maksud dari perkataannya adalah memuji atau menyindir. Melihat Rio sama sekali tidak menghiraukannya, temannya ini langsung mendekati Rio kemudian mendaratkan kepalannya pada perut Rio dan sukses membuat Rio jatuh tersungkur ke tanah. Ketiga temannya berdiri dan ikut menghajar Rio yang masih tersungkur di tanah.

Rio tak membalas pukulan-pukulan yang diberikan pada dirinya dari keempat temannya, Rio hanya dapat memegangi perutnya yang terasa sangat sakit. Kemudian lelaki ini tidak bergerak lagi. Temannya yang memiliki wajah paling garang menarik tubuh Rio untuk melihat keadaannya, senyumnya mengembang bersama keempat temannya ketika melihat bagaimana keaadaan lelaki yang sudah dihajarnya. Lelaki itu diam tak bergeming. Lelaki itu menutup matanya. Itu berarti lelaki itu pingsan. Ya, tidak salah lagi. Dengan perasaan sama sekali tidak peduli, keempat siswa ini meninggalkan Rio yang pingsan disana.

***

Kesenangan Ify ketika bertemu dengan kekasihnya memudar ketika bertemu dengan lelaki yang sudah membuatnya sangat kemarin pagi. Ia bahkan lupa dengan kekasihnya sendiri dan kesenangannya  ketika bertemu dengan kekasihnya menghilang gara-gara melihat lelaki itu. Ify langsung memasang wajah jutek ketika melihat Rio —orang yang dimaksud Ify— lewat tepat disebelahnya. Tepat pada saat Rio melewatinya, Ify menyeletuk dengan nada keras. “Aduh, jadi cowok nggak tau malu banget sih?! Udah tau salah bukannya minta maaf malah langsung pergi gitu aja. Itu apaan lagi memar-memar di pipi?! Kasian…” sindirnya.

Semua pasang mata disekitar Ify menoleh kearah Ify dan Rio. Ify tersenyum penuh kemenangan sedangkan Rio lagi-lagi bersikap cuek dan sama sekali tidak menghiraukan Ify juga puluhan pasang mata yang sedang menatapnya. Lelaki ini melanjutkan langkahnya menuju kantin sekolah, lagi-lagi sikap cueknya membuat Ify benar-benar semakin kesal. Cakka —kekasih Ify— langsung menarik tangan Ify membawa Ify pergi dari sana. Ketika Cakka menarik tangan Ify beberapa siswa-siswi menyoraki mereka, entah menyorakinya dengan maksud apa. Menggoda atau tak suka melihat Cakka menarik tangan si ratu sekolah yang sangat cantik itu.

Ternyata Cakka mengajak Ify ke kelas, kebetulan Cakka dan Ify satu kelas. Ify langsung memilih duduk diatas meja kursi pojok paling depan dan Cakka mengikuti Ify duduk disebelah gadis cantik itu. Sebenarnya Cakka penasaran kenapa tiba-tiba Ify berbicara seperti tadi ketika Rio lewat. “Say, tadi kenapa sih kok kamu kayaknya marah banget gitu pas Rio lewat langsung marah-marah gitu? Rio nyari masalah sama kamu? Kalo nggak kenapa kamu marah dan wajahnya Rio babak belur gitu?” tanya Cakka sambil menolehkan kepalanya kearah Ify dan Cakka dapat melihat wajah cantik milik Ify walaupun yang ia lihat hanya dari samping tapi Ify masih tetap terlihat sangat cantik.

Ify menoleh kearah Cakka yang duduk disampingnya, Ify melihat Cakka sedang tersenyum padanya. “Yang tadi itu? Lupain aja deh, nggak penting…” jawab Ify singkat. Rasanya gadis ini sama sekali tidak berminat untuk berbicara lebih banyak dan Cakka bisa memahami itu. Maka dari itu Cakka tidak bertanya lagi pada Ify. Seperti yang sudah dibilang, kekasihnya sendiri saja tidak mau membuat Ify kesal dan jangan heran jika membuat gadis cantik satu ini kesal, marah atau mempunyai masalah beberapa jam kemudian sudah babak belur seperti yang telah dialami oleh Rio.

“Udah deh, gue mau ngumpul bareng temen-temen gue. Males gue di kelas, loe juga sih ngapain ngajak gue ke kelas kayak nggak ada tempat lain yang lebih enak dipandang aja…” kata Ify kemudian berjalan keluar kelas menemui teman-temannya. Cakka hanya diam saja, menghela napas pendek dan menghembuskannya dengan cepat.

***

Siang harinya, Ify sedang bersantai di rumahnya. Ia membaca majalah milik Mamanya di ruang tamu. Saat itu kedua orang tuanya serta kakaknya menghampirinya disana. Spontan saja, Ify langsung berhenti dengan kesibukannya membaca majalah dan menutup majalah tersebut. Ia melirik kakak laki-lakinya dengan pandangan penuh tanya, kakaknya yang mengerti maksud tatapan adik perempuannya ini hanya bisa mengangkat bahunya karena memang kakak laki-laki Ify ini tidak tahu. Melihat kakaknya mengangkat bahu tanda tidak tahu, Ify langsung melirik kearah Papa dan Mamanya. Sama seperti tadi, menatap kedua orang tuanya dengan pandangan penuh tanya.

“Kenapa, Pah, Mah?” tanya Ify bertanya ketika Papa, Mama dan Kakaknya sudah duduk di sofa ruang tamu.

Papa Ify tersenyum pada Ify. Kemudian melirik ke Mama Ify dan Mama Ify hanya menganggukkan kepalanya. Melihat itu, Ify dan Kakaknya sama-sama bingung. Melihat Ify seperti mau bertanya lagi, Papa Ify sudah mendahuluinya. “Ada hal penting yang mau Papa bicarakan sama kamu, Fy…” jawab Papa Ify merespon pertanyaan yang Ify tanyakan pada Papanya sebelumnya. Melihat alis Ify terangkat, Papa Ify tersenyum dan melanjutkan. “Jadi gini… Kamu akan Papa jodohkan dengan anak teman Papa dan kamu harus nerima…” kata Papa Ify.

Mendengar perkataan Papanya, mata Ify terbelalak lebar. Kaget dengan yang di katakan Papanya barusan. “Apa?! Di jodohkan?! Papa, emang Papa pikir ini masih jamannya Siti Nurbaya? Ini udah jaman modern, Pah, masak di jodohin sih? Apa kata temen-temen Ify nanti disekolah kalo mereka tau Ify dijodohin?! Pokoknya Ify nggak mau di jodoh-jodohin, lagian Ify kan udah punya pacar, Pah, Mah…” kata Ify menolak mentah-mentah perjodohan dari Papanya dengan anak teman Papanya.

“Alasan Papa jodohin kamu sama anak temennya Papa ya karena kamunya itu suka gonta-ganti pacar. Inget lho, Fy, kamu udah kelas 3 SMA bentar lagi juga mau kuliah kalo kamu nggak bisa serius sama hubungan kamu percuma. Meskipun kamu populer dsekolah kalo suka gonta-ganti pacar ntar malah bisa jadi kamunya nggak dapat pendamping hidup, Fy, makanya Papa sama Mama mutusin kalau kamunya lebih baik di jodohin sama anak temen Papa lagian anaknya temen Papa itu ganteng lho, dari semua mantan pacarmu aja kalah gantengnya…” kata Papa Ify panjang lebar.

Ify memajukan bibirnya beberapa centi kedepan. Sama sekali tidak setuju dengan keputusan Papa dan Mamanya yang seenaknya sendiri. Ia merasa tidak adil. Kakaknya tidak di jodoh-jodohkan tapi kenapa ia harus di jodoh-jodohkan segala? “Pah, Mah, pokoknya Ify nggak mau?! Lagian kali ini Ify serius kok sama Cakka…” kata Ify dengan nada memelas. Mencoba meyakinkan kedua orang tuanya agar kedua orang tuanya percaya padanya dan membatalkan masalah perjodohan itu. Nggak sudi banget Ify di jodoh-jodohkan. Apalagi di jodohkan dengan orang asing.

“Pokoknya Papa nggak mau denger alasan dari kamu lagi, kamu harus nerima perjodohan ini dan setelah lulus SMA kalian harus bertunangan. Papa juga udah bilang sama temen Papa kalo kamu nerima perjodohan ini, ngerti?” kata Papanya yang sudah mulai bosan dengan tingkah anak perempuannya yang satu ini. Kemudian Papanya beranjak dari tempatnya meninggalkan ruang tamu itu, hal yang sama dilakukan oleh Mama Ify. Sebelum berbalik, Papanya kembali berbicara. “Oh ya, nanti malam dandan yang cantik. Kamu harus dinner sama calon suami kamu nanti malam…”

Kakaknya masih berda disana, sama seperti Ify kakaknya juga kaget. Ia memandang adik perempuannya dengan perasaan kasihan. Ia langsung menghampiri Ify dan duduk disebelah adiknya itu. “Sabar ya, mungkin Papa sama Mama ngelakuin ini untuk kebaikan dan masa depanmu…” hibur kakaknya.

Ify tersenyum kecut. “Tapi nggak gini juga kan, Kak, caranya?”

***

Ify masuk ke café yang di beritahu oleh Papanya bahwa orang yang akan dijodohkan dengannya tengah menunggunya disana. Namun yang Ify lihat disana ternyata tidak ada orang —seorang lelaki yang tengah duduk sendirian seperti sedang menunggu— kecuali beberapa pasangan yang sedang asyik sendiri. Tetapi yang dilihatnya salah, matanya menangkap sesosok lelaki yang tengah sendirian duduk sendirian. Ify tidak tahu lelaki itu karena lelaki itu membelakanginya t5etapi Ify yakin lelaki itu adalah lelaki yang di jodohkan dengan dirinya. Ya, semoga saja apa yang dibilang oleh Papanya benar, lelaki ini jauh lebih tampan dari semua mantan pacarnya. Semoga saja…

Ify berjalan mendekati meja lelaki itu dan menepuk pelan lelaki itu. “Udah nunggu lama ya? Eh, Loe yang dijodohkan sam—” ucapan Ify berhenti ketika lelaki itu menoleh kearahnya dan Ify mengenali lelaki itu. Matanya terbebelak lebar saking kagetnya melihat lelaki yang duduk di depannya ini. Ah, ini sama sekali tidak mungkin. Kalaupun memang Ify di jodohkan dengan anak teman Papanya dan sekarang lelaki itu sedang menunggunya di café ini tidak mungkin lelaki yang duduk di depannya inilah yang dijodohkan dengannya. Pasti lelaki yang di jodohkan dengannya belum datang ke café ini. Ya, pasti. Tidak mungkin lelaki ini yang di jodohkan dengannya. Tidak mungkin.

Tak hanya Ify, lelaki yang duduk di depan Ify juga memasang tampang kaget. Matanya juga terbelalak lebar. Kaget dan sama sekali tidak percaya. Namun lelaki ini hanya bisa teridam, mulutnya terkunci rapat saking kagetnya.

“Loe ngapain disini? Loe ngikutin gue?” tanya Ify dengan percaya dirinya sambil mengibaskan rambutnya dengan sikap angkuhnya seolah yakin dengan perkataannya sendiri kalau lelaki ini telah mengikutinya. Pengagum rahasianya yang telah ketahuan siapa orangnya. Ify juga memandang lelaki yang duduk di depannya ini dengan pandangan tak suka. Lelaki ini adalah Rio, lelaki yang sudah membuatnya jengkel setengah mati gara-gara di permalukan dan di cuekin abis-abisan. Huh, kenapa sih harus bertemu Rio di tempat ini? Pikir Ify kesal. Kekesalannya juga semakin bertambah ketika mengingat kejadian saat ia merasa dipermalukan oleh Rio.

“Gue? Ngikutin elo? Nggak ada kerjaan banget gue ngikutin elo…” sahut Rio sinis. Untuk pertama kalinya Rio berbicara ‘agak panjang’ seperti ini. Entah setan atau malaikat seperti apa yang merasukinya saat ini sampai-sampai ia mau menanggapi omongan orang lain yang mengajak ia berbicara, tidak seperti biasanya yang selalu bersikap kelewat dingin sama orang-orang.

“Terus ngapain lagi loe kesini kalo nggak ngikutin gue? Udahlah, ngaku aja. Sebenernya loe juga suka kan sama gue? Loe kagum kan sama kecantikan? Jujur aja deh, siapa sih nggak nggak suka sama gue? Cuman orang buta yang nggak bisa suka sama gue. Semua gadis yang di idam-idamkan cowok ada semua di diri gue jadi nggak heranlah kalo banyak yang suka sama gue. Termasuk elo, iya kan? Jujur aja deh…” kata Ify yakin sambil tersenyum angkuh seolah yang dikatannya tadi memang benar. Sikap yang sama sekali tak Rio suka dari ‘gadis sombong’ ini.

“Gue dateng kesini karena gue mau ketemu sama cewek yang di jodohin sama gue! Bukan karena ngikutin elo, PD banget sih loe jadi cewek…” kata Rio dingin tanpa menoleh kearah Ify, nada suaranya terdengar begitu sangat sinis. Kemudian beberapa saat ia menoleh dan menatap sinis kearah Ify. “Jadi orang nggak usah ke-PD-an deh, mentang-mentang cantik gitu… Gue sumpahin leo naksir sama cowok jelek…” lanjut Rio lagi kemudian mengalihkan pandangan.

Ify tercekat mendengar perkataan Rio. Khususnya pada perkataan yang pertama tadi. Rio berkata kalau lelaki itu sedang menunggu gadis yang dijodohkan dengannya? Tunggu. Bukankah tujuan Ify ke café ini juga karena hal itu? Berarti… Dugaan Ify benar? Oh God. Mimpi apa Ify semalam. “Loe kesini nungguin cewek yang di jodohin sama elo? Seriusan? Oh God. Kenapa harus cowok kayak dia yang Papa dan Mama pilih…” kata Ify shock.

“Maksud loe apaan sih? Udah deh, ngapain loe masih disini…” kata Rio mengusir Ify.

“Heh?! gue itu cewek yang dijodohin sama loe. Elo beruntung banget dapet cewek secantik dan sepopuler gue tapi gue sengsara dapet cowok kayak loe, udah jelek, item, kuper lagi. Ya ampun, apa kata temen-temen gue ntar?” kata Ify sambil menepuk jidatnya. Kaget. Shock. Nggak percaya.

Rio membelalakkan matanya. “Loe nggak usah ngarang cerita…” kata Rio menolak kenyataan.

“Gue nggak ngarang cerita, bego. Loe nggak usah ke-GR-an deh. Emangnya gue mau apa di jodohin sama loe? Sampe gue mati pun gue nggak bakalan sudi di jodohin sama loe?!” kata Ify sambil menunjuk-nunjuk Rio dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah Rio. Membuat lelaki itu sedikit memundurkan badannya agar matanya tidak kena culek tangan Ify.

Rio menatap Ify dingin dan membalas perkataan Ify. “Emangnya gue mau dijodohin sama loe? Sama sekali nggak, jangan terlalu berharap! Gue juga nggak sudi dijodohin sama elo…” balas Rio dengan nada sinis. Perasaannya sangat kacau saat ini.

Ify menghela napas panjang, dadanya sesak, matanya memanas, rasanya ia benar-benar sangat ingin nangis. Kenapa harus dengan Rio yang di pilih orang tuanya? Kenapa? Yang kata orang tuanya lelaki yang dijodohkan dengannya lebih tampan dari pada semua mantan pacarnya mana buktinya? Ify malah lebih memilih semua mantan pacarnya dari pada lelaki ini. Lelaki yang sudah membuatnya kesal setengah mati, kenapa? Kenapa harus terjadi? Kenapa harus Rio? Kenapa harus lelaki itu? Kenapa bukan lelaki lain?

***

To Be Continued
[ Read More.. ]

Don't Love Me - Part 4

Don't Love Me - Part 4

***

“Hah? Rio? Siapa tuh Rio?”

Alvin langsung menolehkan kepalanya ke arah Ify, ada raut wajah kekagetan di wajah tampan Alvin. Apa kata Ify tadi? Ify bertanya Rio siapa? Tidak mungkin. Masak dengan mudahnya Ify bisa melupakan Rio begitu saja. Bentar, bentar, mungkin Ify lebih mengenal Rio dengan nama ‘Steph’ bukan ‘Rio’. Ya, sepertinya begitu. “Ee, mungkin Adek lebih kenal dengan nama ‘Steph’ dari pada ‘Rio’. Jadi, gimana? Kamu inget?” tanya Alvin.

Ify mengerutkan kening. Semakin bingung dan tidak mengerti. “Tadi Rio sekarang Steph? Sebenernya siapa sih Rio atau Steph itu?” tanya Ify benar-benar tidak mengerti. Mendengar kedua nama itu Ify tampak asing tapi hatinya justru berkata sebaliknya. Hatinya mengatakan ia kenal dengan pemilik nama itu, tapi siapa…

“Dek, kamu beneran lupa?” kata Alvin dengan nada kecil. Entah, yang ia katakan itu bertanya atau tidak. Seingatnya, semenjak Rio pindah Ify mendadak menjadi pendiam selama seminggu kemudian kembali ceria lagi tetapi sekarang? Ify lupa? Oh, ini sungguh sangat aneh.

“Aduh, Kak Alvinku sayang, yang jelas dong kalo ngomong. Rio itu siapa sih?” tanya Ify gemas.

Alvin menghela napas pelan. Sepertinya Ify memang sudah benar-benar lupa dengan Rio. Alvin hanya dapat mengacak-acak rambut adiknya tanpa menjawab apa yang Ify tanyakan. Sambil tersenyum kecil, ia berbicara pelan. “Sudah sana tidur, ini udah malem. Kakak pulang dulu…” kata Alvin pelan.

***

Gabriel duduk dalam diam di kursi depan kelasnya sambil menatap gerbang sekolah yang jaraknya sangat jauh dari tempatnya kini sedang duduk. Ia mengamati setiap siswa-siswi yang memasuki sekolahnya. Orang yang ditunggunya tak kunjung datang ke sekolah, perasaannya benar-benar sangat gelisah. Tapi tak berlangsung lama karena orang itu baru saja memasuki sekolah. Wajah Gabriel cerah dan spontan ia langsung berdiri. Kakinya melangkah untuk berjalan menghampiri orang itu. Sivia.

“Sivia…” sapa Gabriel pelan, kaku.

Sivia menoleh, Ify yang lagi bersama Sivia juga menoleh. Menoleh kearah Gabriel. “Kenapa, Kak?” tanya Sivia. Heran.

“Ohh, nggak. Cuma nyapa aja, kebetulan gue ngeliat elo…” jawab Gabriel enteng sambil memasang senyumnya yang sangat manis itu.

Sivia hanya tersenyum, kemudian melanjutkan jalannya bersama Ify menuju kelasnya dengan langkah pelan. Gabriel memandang Sivia sambil ikut tersenyum. Memandang gadis itu sampai akhirnya gadis itu berbelok dan tak terlihat lagi, baru setelah itu Gabriel berjalan menghampiri teman-temannya.
***
Hari ini Alvin sengaja izin sekolah, ia akan izin tidak masuk sekolah selama beberapa hari. Ia kembali ke desanya di Sragen. Semalam, ia teringat dengan obrolannya dengan Ify, waktu Alvin berbicara tentang Rio pada Ify. Tetapi Ify tidak mengingat siapa Rio. Ia juga teringat dengan isi email dari Rio. Dimana lelaki itu menulis bahwa lelaki itu akan pulang ke Indonesia dan menetap di sini. Awalnya, ia ingin memberi kejutan untuk Ify tentang berita ini, tetapi karena Ify tidak ingat siapa Rio jadi apa gunanya memberi tahu Ify kalau lelaki itu akan pulang.

Dan alasannya untuk izin tidak masuk sekolah karena hal ini Rio sudah datang dan sebagai teman yang baik Alvin menjemput Rio. Alvin sebenarnya sudah tahu, Rio datang sudah sejak beberapa hari yang lalu. Karena Rio tidak tahu kalau Alvin, Ify dan Sivia bersekolah di Jakarta, Rio kembali terbang menuju ke Semarang. Karena hal itu Alvin menyuruh Rio tidak terburu-buru berangkat ke Jakarta dan menunggunya sampai datang. Sekalian Alvin juga ingin tahu bagaimana keadaan keluarganya yang berada di desa.

***

“Yel, itu Sivia sama Ify bareng sama siapa sih?”

Gabriel menoleh kearah yang di tunjuk oleh Cakka. Kemudian bergumam tak jelas gara-gara matanya menangkap sosok Sivia saat itu. Tapi kemudian tersadar ketika Gabriel bertanya gadis yang sedang bersama Ify dan Sivia. “Yang itu? Namanya Agni, dia kan siswi baru…” jawab Gabriel jutek. Kemudian ketika beberapa saat ia langsung menoleh cepat kearah temannya yang bertanya tentang Agni. “Kenapa loe tanya-tanya? Jangan-jangan loe suka lagi sama tuh cewek… Jeeh, ternyata seorang Cakka Kawekas Nuraga udah bosen sama cewek yang seksi, yang tomboy ikutan di embat…” goda Gabriel sambil tertawa.

Temannya yang di panggil Cakka melotot galak kearah Gabriel. “Idih, siapa juga yang naksir sama tuh cewek aneh. Lagian ngapain juga gue naksir sama dia, bukan level gue…” kata Cakka.

“Gue sumpahin loe nyantol sama dia…” kata Gabriel masih tertawa.

“Loe kata jamuran nyantol-nyantol?” desis Cakka.

Gabriel semakin tertawa lebar.

***

To Be Continued
[ Read More.. ]

Don't Love Me - Part 3

Don't Love Me - Part 3

***

Hari ini mungkin adalah yang sangat mengejutkan bagi Sivia Azizah. Bagaimana tidak? Gabriel Stevent Damanik, cowok terpopuler di SMA Pertiwi —sekolah Sivia dan Ify— telah menyatakan cinta pada Sivia di tengah-tengah lapangan. Ini sangat memalukan bagi Sivia. Sangat. Kenapa? Karena lelaki itu benar-benar sangat nekat. Di tengah-tengah lapangan, tepat pada saat itu banyak sekali siswa-siswi yang menonton. Entah dengan cara seperti apa, Sivia benar-benar ingin menyembunyikan wajahnya saat ini. Kini, gadis itu —Sivia Azizah tentunya— sedang terdiam seperti patung, menatap bengong kearah Gabriel yang sedang menatapnya. Ini gila.

Ify menyenggol lengan Sivia pelan, mendekatkan wajahnya ke telinga Sivia dan membisiki sesuatu ke telinga gadis yang sedang terbengong-bengong itu. “Heh, jangan bengong gitu aja. Di jawab kek, Kak Gabriel kan nyuruh kamu dateng ke tengah lapangan nyuruh kamu ngasih jawaban ke dia. Buruan samperin, terima aja langsung si Kak Gabrielnya, lagian Kak Gabriel lumayan ganteng kok…” bisik Ify sambil terus menyenggol lengan Sivia dengan perasaan gemas. Ada yang berbeda mungkin dari Ify, Ify tidak lagi memanggil laki-laki yang lebih tua darinya dengan nama “Mas” seperti yang dia panggil di desanya, malah sekarang sudah memanggil dengan nama “Kak”. Bukan apa-apa, tapi Ify kesal karena sewaktu ia baru pinbdah ke Jakarta ia dan Sivia sempat diejek kampungan oleh teman-temannya gara-gara memanggil Alvin dengan nama “Mas Alvin”. Siapa yang coba yang merasa tidak kesal di panggil dengan sebutan ‘Kampungan’?

Sivia masih diam tak bergeming. Dia masih menatap Gabriel yang berdiri ditengah-tengah lapangan. Jantungnya berdebar begitu sangat kencang. Baru kali ini ada seseorang yang menyatakan cintanya di depan orang banyak. Tiba-tiba ia melihat Gabriel berjalan menuju ke… Arahnya, mungkin. Ya, sepertinya memang kearahnya karena sejak tadi Gabriel masih memandangnya. Mata mereka bertemu dan keduanya juga saling tak melepas pandangan mata itu.

Untuk kesekian kalinya, Ify menyenggol lengan Sivia. Namun, kali ini ada keras sampai-sampai Sivia terdorong kesamping. Ify juga kembali mendekatkan kepalanya kearah Sivia, membisiki sesuatu ke telinga gadis itu. “Bodoh banget sih kamu, Vi. Kak Gabriel nyamperin kamu nih. Kamu sih di suruh nyamperin Kak Gabriel nggak mau…” gerutu Ify gemas. Ify menggeser beberapa langkah ke arah samping untuk menjauhi dirinya dari Sivia ketika merasa Gabriel sudah benar-benar dekat kearahnya —lebih tepatnya kearah Sivia.

“Ee, gimana jawabannya? Aku siap terima jawaban apapun yang kamu berikan…” kata Gabriel. Suaranya lembut, Sivia suka sekali dengan cara Gabriel. Tidak seperti kebanyakan cowok-cowok lain. Lebih suka melakukan dengan cara memaksa, dan apapun caranya agar menerima.

Sivia menundukkan kepalanya. Bingung. Kepalanya berputar lebih cepat, yang ada di pikirannya hari ini hanyalah apa yang harus ia jawab? Apakah menerima atau menolak. Kalau seandainya Sivia menerima, ia masih merasa belum yakin. Ia belum mengenal lelaki ini. Kalau seandainya di tolak, ia takut jika ia suatu saat nanti ia akan jatuh cinta pada lelaki ini dan menyesal karena sudah menolak. Kini perasaannya sangatlah bimbang. Selain pemikiran itu, masih banyak pikiran lain yang ada dalam pikirannya. Gabriel adalah cowok populer kan? Ia takut jika menerima ia malah sakit hati. Banyak sekali bukan yang mengagumi Gabriel? Yang menyukai Gabriel? Siapa tahu dengan kepopulerannya di sekolah membuat lelaki itu menjadi P-L-A-Y-B-O-Y. Tetapi ia juga takut jika ia menolak, sama seperti alasan yang sebelumnya. Ia takut jika ia menolak di suatu saat nanti ia malah menyukai lelaki ini. Perasaannya bimbang.

Gabriel juga diam, ia menunggu gadis di depannya ini mengucapkan sesuatu kepadanya. Ia tahu jawaban apa yang nantinya Sivia berikan. Menolak. Ya, itu yang Gabriel pikirkan sejak tadi. Ia takut kalau yang ia pikirkan itu benar. Tapi ia merasa ia juga salah, ia menyatakan perasaannya di waktu yang tidak tepat. Ini terlalu cepat untuk menyatakan perasaannya pada Sivia. Kenapa? Gabriel belum mengenal Sivia, memang sejak awal Sivia masuk menjadi siswi baru SMA Pertiwi Gabriel sudah luluh pada gadis manis ini. Dia tidak bisa memendam perasaannya lebih lama lagi maka dari itu ia menyatakan cintanya pada Sivia sekarang. Mau sampai kapan? Ia sendiri sudah kelas dua belas dan gadis itu kelas sebelas. Sudah setahun lebih ia menyimpan perasaan ini. Tapi kenapa hatinya berkata ia terlalu cepat menyatakan perasaannya? Kenapa?

“Ee, Kak…” kata Sivia membuka suara.

Mendadak ketika Sivia membuka suara, suara disekelilingnya menjadi sangat ramai. Semua siswa-siswi yang menonton menyorakinya dengan histeris. Banyak yang menyuruhnya untuk menerima Gabriel menjadi pacarnya. Ah, terlalu lebay sekali. Begitulah yang Ify pikirkan saat ini. Matanya juga tak lepas dari Gabriel dan Sivia.

“Maaf.” kata Sivia pelan nyaris terdengar seperti bisikan.

DEG. Jantung Gabriel berdebar semakin kencang. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin ini akan terjadi padanya, yang ia pikirkan ternyata benar-benar terjadi. Astaga, bagaimana ini? Ia tahu benar apa yang bakalan Sivia jawab. Ia takut. Ia ingin sekali menaik kata-katanya lagi, lebih baik ia tidak mengatakannya kalau akhirnya akan membuatnya sakit hati, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan ia harus bisa menerima jawaban apapun yang Sivia jawab nantinya. Tiba-tiba dadanya mulai menyesak, padahal Sivia belum mengatakan apapun, belum menjawab. Tetapi kata “Maaf” yang di ucapkan gadis itu adalah kata awal sebelum gadis itu benar-benar menolaknya. Gadis itu akan meminta maaf dulu kepadanya sebelum menolak. Meminta maaf karena tidak bisa menerimanya. Benarkah begitu? Astaga…

“Aku nggak bisa nerima. Maaf Kak Gabriel, tapi aku harap kakak nggak benci sama aku gara-gara aku nolak kakak…” kata Sivia membungkukkan badan dan berulang-ulang ia meminta maaf pada kakak kelasnya ini.

Hati Gabriel mencelos. Sakit rasanya, terasa sangat hampa. Baru kali ini ia di permalukan sekaligus di tolak oleh seorang cewek. Ia baru tahu, ternyata rasa sakit hati seperti ini. Sangat sakit, nyeri sekali… Tetapi, perasaan itu tidak mungkin ia tunjukkan kepada Sivia dan teman-temannya yang menontonnya dengan Sivia. Ia pasti akan dianggap lemah. Tidak. Ia laki-laki jadi ia harus kuat. Perlahan, ia menarik napas dan menghembuskannya. Kemudian ia menatap Sivia, tepat dimatanya. “Ya, nggak apa-apa. Aku nggak akan benci sama kok sama kamu, tenang aja…” kata Gabriel berusaha tersenyum.

Ya, Sivia menolak Gabriel. Mungkin inilah satu-satunya cara yang terbaik. Ia tidak mungkin menerima Gabriel gitu saja. Memangnya Sivia cewek gampangan yang mudah menerima cowok setiap ada cowok yang menyatakan cinta padanya dan memintanya untuk menjadi kekasihnya? Sivia tidak seperti itu. Enak saja. Tapi, didalam hatinya masih ada perasaan bersalah. Ia telah membuat seseorang sakit hati gara-gara dirinya. “Ya, aku pegang kata-kata kakak…” setelah berkata seperti itu, Sivia mendekati Ify dan mengajak Ify pergi dari tempat itu.

Siswa-siswi yang melihat kejadian itu menyoraki Sivia. Dasar cewek sok jual mahal. Begitulah pemikiran kebanyakan siswi yang melihat. Sayang sekali, cowok sepopuler Gabriel di tolak oleh gadis itu. Andai yang menjadi  Sivia saat itu adalah siswi-siswi itu, pasti mereka tidak akan menolak. Ah, dasar memang Sivia bodoh. Lagi-lagi pikiran itu yang muncul dalam benak siswi-siswi yang melihat. Menatap Sivia dengan pandangan tak suka bercampur iri kemudian menatap Gabriel dengan pandangan kasihan. Tetapi tidak ada satu pun siswa maupun siswi yang mengledek Gabriel gara-gara di tolak.

Ya, Gabriel mulai bisa menerimanya. Meskipun hatinya masih terasa nyeri, ia berusaha untuk meninggalkan tempat itu. Percuma saja berdiri dalam diam di tempat itu. Sekali lagi ia katakan, baru kali ini ia dipermalukan sekaligus di tolak. Sakit rasanya…

***

Pulang sekolah, Alvin datang ke tempat kost Ify dan Sivia. Tempat kost Alvin dengan kedua gadis itu memang berbeda, mereka —Alvin, Ify dan Sivia— sengaja memilih tempat kost khusus yang sejenis (?). Maksudnya tempat kost khusus cewek sendiri dan khusus cowok sendiri. Tidak di campur cewek dan cowok menjadi satu (?). Kebetulan jarak tempat kost Alvin dengan kedua gadis itu tidak jauh, jadi Alvin hanya perlu berjalan kaki saja untuk menghemat biaya.

“DEK IFY!” seru Alvin di depan pintu kost Ify. Ia juga tidak mengetuk pintu kost Ify malah langsung duduk di kursi depan kost Ify. Lama menunggu karena tidak ada yang membuka pintu, Alvin mulai merasa sebal. Tiba-tiba ia mendengar ada suara pintu dibuka, ia menolehkan kepalanya. Bukan pintu kost Ify, malah pintu kost Sivia. Alvin langsung berdiri dan memasang wajah yang berbinar-binar. Tapi tidak bertahan lama, karena mengingat kejadian siang tadi disekolahnya.

“Kak Alvin. Ngapain kak? Nyari Ify? Ify lagi keluar tuh sama Agni nemenin Agni beli buku…” sapa Sivia sambil tersenyum, gadis itu berjalan mendekati Alvin kemudian duduk disebelah Alvin.

“Oh, gitu?” sahut Alvin pelan. Kemudian ia menatap Sivia dan bertanya. “Kok kamu nggak ikut sama Dek Ify sama Dek Agni? Tumben? Biasanya kan kalau kemana-mana gitu bareng terus sama Dek Ify, lengket kayak perangko…” canda Alvin sambil tertawa renyah.

“Tadi aku ngantuk banget jadi nggak ikut, hehehe…” kata Sivia sambil tertawa.

Alvin merasa jantungnya nyaris copot melihat senyum Sivia. Senyumnya begitu sangat manis dan menggoda. Ingin rasanya Alvin ikut tersenyum karena melihat senyum gadis manis ini, ternyata memang iya, Alvin juga ikut tersenyum. Senyumnya benar-benar menular. “Oya, Vi, disekolah tadi kamu di tembak kan sama Gabriel? Selamat ya. Jangan lupa PJ nya, hehe…” kata Alvin berusaha tertawa meskipun dengan terpaksa. Tadi, Alvin memang tidak melihat kejadian itu sampai habis, tidak mendengar jawaban Sivia. Ia takut, jika mendengar akan membuat hatinya sakit. Ia yakin Sivia pasti menerima Gabriel. Tidak mungkin Sivia menolak cowok sepopuler Gabriel? Tidak mungkin. Maka dari itu, ia tidak melihat sampai selesai dan buru-buru kembali ke kelas, terakhir kali yang dilihatnya adalah sewaktu Gabriel menghampiri Sivia.

Sivia mengerutkan keningnya. Bingung. “Lho, kok ngucapin selamat? Minta PJ lagi. Aneh deh, Kak Alvin ini…” kata Sivia sambil tertawa kecil. “Aku kan nolak Kak Gabriel. Kami nggak jadian kok, yee…” lanjut Sivia tertawa geli. Kenapa bisa laki-laki ini mengira Sivia menrima Gabriel? Jelas-jelas tadi Sivia menolak Gabriel. Ini aneh.

Alvin mengangkat wajahnya menatap Sivia. Kaget. Bingung. Heran. Senang. Semuanya bercampur menjadi satu. Benarkah apa yang baru saja Sivia katakan? Sivia menolak Gabriel? Sungguh? Alvin hampir tidak percaya ketika Sivia mengatakan hal ini, tapi ia juga tidak bisa memendan rasa senangnya. Sivia pintar telah menolak Gabriel, berarti masih ada kesempatan untuk dirinya mendapatkan Sivia bukan? Ya, pasti. Tapi ada perasaan aneh yang mengganjal dalam hatinya. Sivia menolak Gabriel? Gabriel yang sepopuler itu ditolak, Gabriel yang lebih tampan dan banyak dikagumi oleh banyak gadis telah Sivia tolak. Bagaimana kalau dirinya? Ia tidak yakin. Dirinya justru malah tidak seberapa dibandingkan dengan Gabriel. Kalau Gabriel di tolak, tentu saja ia pasti juga akan di tolak. Begitu?

“Hei!” kata Sivia membuyarkan lamunan Alvin. “Diajak ngobrol kok malah ngelamun, ngelamunin siapa sih?” lanjut Sivia bertanya.

Alvin terdasar, ia langsung menatap gadis itu. “Eh? Nggak ngelamunin siapa-siapa kok, hehehe…” jawab Alvin sambil tersenyum masam. “Oya, Vi, aku… Lebih suka kamu manggil aku dengan sebutan‘Mas Alvin’  dari pada ‘Kak Alvin’ . Panggil aku ‘Mas Alvin’  aja ya?” lanjut Alvin mengalihkan pembicaraan.

Sivia memiringkan kepalanya. Menimbang-nimbang. “Emm, iya deh, Mas Alvin. Emang kenapa harus manggil ‘Mas’ ?” tanya Sivia penasaran. Matanya juga tak lepas sedari dari terus memandang sosok tampan yang duduk disebelahnya. Wajahnya tampan dan jika dipandang terus-menerus tidak akan pernah bosan. Ya, wajah lelaki itu sama sekali tidak membosankan.

Alvin tersenyum. “Ya, suka aja…” sahutnya pelan sambil mengacak-acak poni Sivia.

“Hei, kalian. Pacaran aja terus…” ledek seseorang dari arah jauh menghampiri Alvin dan Sivia. Orang ini adalah Ify, dia baru saja selesai membeli buku bersama Agni. Agni juga ikut dengannya, tetapi ia hanya tersenyum kecil melihat Alvin dan Sivia yang tampaknya sedang asyik mengobrol.

“Ify? Lama sekali sih?” gerutu Sivia pura-pura kesal.

“Lama atau lama? Oh, jangan-jangan kesel gara-gara aku dan Agni datang terlalu cepet ya? Sampe-sampe kamu marah gara-gara obrolannya sama Kak Alvin keganggu, hayoo…” goda Ify sambil tertawa lebar.

“Apa sih?” seru Sivia membuang muka, kesal. Wajahnya kali ini sudah memerah.

“Hahaha… Ketahuan tuh, hayo ngaku. Kamu suka kan sama kakakku? Hahaha…” goda Ify lagi.

Sivia tak menyahut, malah memajukan bibirnya beberapa centi. Alvin dan Ify tertawa terbahak-bahak sedangkan Agni hanya tersenyum kecil, menganggap adegan di depannya ini sama sekali tidak begitu lucu.

***

Alvin dan Ify duduk di kursi depan kost Ify, hari sudah larut tapi Alvin masih belum pulang. Sivia tampaknya sudah mulai tertidur, Ify dan Alvin sendiri masih asyik mengobrol di depan kost Ify. Tiba-tiba Alvin teringat sesuatu, isi email dari teman lamanya. Ia buru-buru menatap Ify dan mengatakan tentang itu.

“Fy, kamu inget nggak sama Rio?” tanya Alvin.

Rio? Nama asing bagi Ify. Nampaknya, Ify sama sekali tidak pernah mengenal nama itu. Siapa dia? Siapa Rio? “Hah? Rio? Siapa tuh Rio?” tanya Ify bingung.

***

To Be Continued
[ Read More.. ]

Don't Love Me - Part 2

Don't Love Me - Part 2

***

Keesokan paginya…

Alvin sedang menunggu Adik perempuannya yang sedang memakai sepatu di ruang tamu. Kedua tangannya terlipat didepan dada, ia baru akan mengeluarkan suara ketika adik perempuannya menghampirinya. Alvin mendesah pelan. “Lama banget sih, yaudah ayo berangkat…” kata Alvin pelan.

Ify menganggukkan kepalanya. Kemudian ia dan kakaknya berangkat menuju sekolah. Di jalan, kakak beradik ini bertemu dengan Sivia. Tampak terlihat Sivia sedang berlari-lari kecil menuju kearah Alvin dan juga Ify.

“Pagi Ify, Pagi Mas Alvin…” sapa Sivia dengan senyumannya yang begitu manis.

“Pagi…” balas kakak beradik ini dengan kompak.

“Kok tumben, Vi, agak siang. Biasanya kamu kan rajin banget berangkat paling awal…” tanya Ify bingung. Siapa yang tidak bingung? Sivia bahkan setiap harinya selalu berangkat pagi, jam enam saja sudah telat bagi Sivia berangkat sekolah. Tetapi sekarang, Sivia malah berangkat bersama dirinya dan kakaknya padahal sebelum berangkat ia sempat melirik jam di rumahnya dan jam tersebut menunjukkan pukul setengah tujuh.

“Oh, itu. Aku bangun kesiangan soalnya tadi malam aku begadang sampai jam dua pagi, hehehe…” kata Sivia menjelaskan sambil tertawa kecil. Malu mengatakannya, entah malu karena apa. Yang pasti ia merasa malu. Sivia melirik sekilas kearah Alvin dan mendapati lelaki itu tersenyum kearahnya. Oh, sungguh tampan.

“Anak cewek kenapa harus begadang sampai pagi? Nggak baik lho, nanti konsentrasinya pecah saat sekolah gara-gara ngantuk…” kata Alvin sok perhatian. Alvin tahu, ia berbiacara seperti ini pasti Sivia tidak akan menanggapinya seperti cewek-cewek lain. “Ah, Sok perhatian.”  atau “Aduh, pagi-pagi udah ceramah…”  atau bahkan “Udah deh, bukan urusan Mas Alvin juga.”  Kenapa? Ya, karena Alvin sudah mengenal sejak kecil, sama halnya dengan Ify.

“Nah, bener tuh. Aku aja jam setengah sembilan belum tidur udah kena marah sama Mas Alvin, huft…” keluh Ify kesal sambil memajukan bibirnya beberapa centi.

Alvin dan Sivia tertawa melihat Ify.

***

Saat jam istirahat, Ify bingung karena melihat mobil Kijang Innova berwarna hitam milik Rio datang kesekolah. Ia langsung menyenggol lengan Sivia yang berjalan disampinya. “Via, itu kenapa ya kok orang tua Mas Steph kesini?” tanya Ify bingung, tangannya menyenggol-nyenggol lengan Sivia tapi matanya tak lepas memandang Mobil Kijang Innova itu.

“Ya mana aku tahu, emangnya aku siapanya?” jawab Sivia cuek.

Sivia mendengus sebal. Ia sebal karena Sivia yang begitu sangat cuek padanya. Tapi dalam hati, sebenarnya Ify merasa sangat penasaran. Mendadak perasaannya mulai tidak enak. Entah kenapa Ify bisa merasa seperti ini, ia benar-benar tidak tahu karena perasaan itu muncul tiba-tiba. Membuat Ify semakin penasaran dan kepalanya pusing gara-gara terlalu banyak berpikir kenapa perasaannya tiba-tiba mendadak seperti ini.

Disisi lain, Rio mendesah pelan di sudut ruang kelasnya. Ia tahu orang tuanya datang kesekolah untuk mengursi surat kepindahannya. Kakaknya sudah sejak tadi pagi dan sekarang kakaknya sedang menunggu di Mobil. Rio sendiri tak mau keluar kelas sebelum ia dipanggil oleh guru. Yakin, karena orang tuanya pasti meminta kepada kepala sekolah agar Rio bisa pulang lebih awal. Baru memikirkan itu, seorang guru masuk keruang kelas Rio dan mengatakan kalau Rio sudah diperbolehkan untuk pulang.

Sebenarnya Rio merasa berat untuk meninggalkan sekolah dan desa tempat tinggalnya. Apalagi, Rio belum sempat berpamitan kepada teman-temannya. Padahal, Rio sudah terlanjur sangat nyaman disini. Semua teman-temannya sudah dianggapnya seperti saudara kandung. Ini sangat berat, Rio harus berpisah dengan orang-orang yang disayanginya di desa ini. Ini memang sangat mendadak, Rio benci sekali kalau ada sesuatu yang mendadak seperti ini. Papanya memberitahu kalau ia akan pindah ke Amerika kemarin sedangkan berangkatnya ke Amerika besok pagi. Tentu saja Rio tidak sempat berpamitan karena hari ini ia harus berkemas-kemas. Rio membenci hal ini.

Rio berjalan keluar kelas, menuju Mobil Kijang Innova milik orang tuanya di parkirkan. Di dalam mobil, ternyata sudah ada kakaknya yang duduk dibagian jok belakang mobil. Rio membuka pintu bagian belakang dan masuk, duduk disebelah kakaknya yang sejak tadi hanya diam. Melihat kakaknya yang diam, Rio juga diam. Tak berapa lama, kedua orang tuanya datang. Kemudian, Rio dan keluarganya pergi meninggalkan area sekolah menggunakan Kijang Innova yang membawanya pergi. Ya, inilah saat-saat terakhir kalinya Rio menginjakkan kaki disekolah kesayangannya.

Dari kejauhan, Ify melihat Kijang Innova itu pergi meninggalkan sekolah. Otaknya kembali berputar, memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Tadi ia juga melihat Rio berjalan menuju Mobil miliknya dan masuk, Laki-laki itu juga menggendong tasnya. Kemudian setelah orang tuanya kembali langsung pergi. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba tanpa disadarinya dadanya berdebar dua kali lebih cepat.

***

Pulang sekolah, Ify iseng menanyakan tentang rasa penasarannya sejak pagi tadi disekolah kepada kakaknya, Alvin Jonathan. Tapi, ia ragu untuk bertanya. Tapi sayang, rasa penasarannya memenuhi pikirannya sehingga akhirnya ia bertanya. “Eh, Mas Alvin, tadi itu… Kenapa Mas Steph pulang duluan?” tanya Ify.

Alvin menoleh. Saat ini, ia dan Ify sedang duduk di teras depan rumahnya. Sedang bersantai. “Lha, kamu nggak tau, Dek? Rio kan mau pindah ke Amerika besok pagi, orang tuanya kesekolah kita kan gara-gara mau mengurus surat kepindahan…” kata Alvin tenang. Tampaknya Alvin sama sekali tidak heran Ify bertanya-tanya.

DEG. Ify sepertinya mulai menyadari jatungnya lebih cepat berdetak dari yang sebelumnya. Apa yang terjadi padanya? Perasaan itu… Ify cepat-cepat membuang perasaan itu jauh-jauh. Ah, kenapa ia jadi takut seperti ini? Bukankah ini adalah hal yang menyenangkan mendengar laki-laki itu akan segera pindah ke Amerika? Berarti, tidak akan ada orang lain lagi yang akan menjaili dirinya kan? Ya, pasti. Seharusnya ia senang, lelaki itu pergi. Jauh dari daerahnya yang sekarang ia tempati. Bagus sekali. Tapi jujur, ia sama sekali tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Perasaan takut kehilangan… Mungkinkah? Tidak mungkin. Ia tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu, ia hanya menganggap laki-laki itu anak nakal yang suka menjailinya. Tidak mungkin, kalaupun ia memang memiliki perasaan seperti itu ia yakin ia hanya merasa kecewa karena harus kehilangan satu teman. Tidak mungkin ia memiliki perasaan itu. Cinta. Mustahil, sangat mustahil. Mana mungkin ia bisa jatuh cinta disaat ia baru saja duduk di bangku SMP kelas tujuh. Aneh. selama ini kan ia sangat benci dengan laki-laki itu. Ia pernah menyelutuk kalau benci jadi cinta itu tidak benar. Benar kata kakaknya, kalaupun memang dia cinta… Ya, cinta monyet, cintanya anak kecil seperti dirinya yang baru saja kelas tujuh. Ah tidak, ia tidak merasa cinta. Ia hanya merasa sayang. Ya, sayang bukan cinta. Sayang sebagai teman. Ify memantapkan perasaan itu. Tiba-tiba ia teringat kejadian kemarin sore di sungai saat ia merasa tampaknya perilaku Rio berubah. Apa ini? Apa Rio sedih meninggalkan desa ini? Mungkin…

Ify beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam rumah, meinggalkan Alvin yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Ia tidak memperdulikannya. Ia capai, ia harus beristirahat. Kepalanya juga terasa berat.

***

Keesokan paginya…

Hari ini Ify berangkat sekolah tidak bersama kakaknya, ia berangkat lebih awal dan ia sengaja melewati jalan yang agak jauh menuju sekolah. Jalan dimana ia akan melewati rumah Rio. Sejak tadi malam, ia selalu kepikiran laki-laki itu terus. Ia tak bisa menghilangkan bayang-bayang laki-laki itu dari pikirannya.

Ify berhenti tepat di depan rumah Rio. Rumahnya sudah terlihat sangat sepi, seperti tak berpenghuni. Mungkin saja, Rio dan keluarganya sudah berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta di Jakarta sejak subuh atau bahkan kemarin malam. Ify emndesah pelan. Perasaan kehilangan itu muncul lagi dalam benaknya…

Disaat yang bersamaan, Rio masuk kedalam pesawat bersama dengan Kakak, Papa dan Mama tirinya. Ya, ini adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di Indonesia. Entah sampai kapan ia menetap di Amerika. Entah bisa atau tidak ia kembali ke Indonesia. Rasanya sangat berat meninggalkan negara ini. Negara tempat dimana ia dilahirkan, dibesarkan, dimana ia mempunyai banyak teman yang baik dan menyenangkan. Itu artinya, jika ia meninggalkan Indonesia, ia juga tidak akan bisa lagi menengok makan Ibunya. Tapi, suatu saat nanti ia berjanji akan datang kembali ke Indonesia.

Kemudian, Rio dan keluarganya masuk ke dalam pesawat.

***

5 tahun kemudian…

Ify dan Sivia sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Keduanya kini sudah kelas sebelas. Kebetulan atau memang Ify dan Sivia berjodoh, mereka satu kelas lagi. Beruntung sekali. Tetapi mereka tidak bersekolah di desa mereka yang lama, mereka bersekolah di Jakarta. Tidak hanya mereka, Alvin juga ikut ke Jakarta. Mereka bertiga ngekost di tempat kost dekat sekolah mereka.

“Selamat pagi, anak-anak…” kata wali kelas masuk kedalam ruang kelas.

“Pagi, Bu…” salam semua penghuni kelas itu kepada wali kelas. Ify, Sivia dan teman-temannya tampak heran dan memasang wajah bingung. Kenapa wali kelasnya masuk ke kelas mereka? Ini kan bukan pelajaran Bahasa Indonesia —wali kelas di kelas itu mengajar bahasa Indonesia di kelas itu— tapi ini kan pelajaran Fisika. Tapi kok malah wali kelasnya yang masuk. Aneh. Pasti ada apa-apanya ini. Ya, pasti.

“Ibu mau minta waktunya sebentar. Jadi gini, di kelas kalian kedatangan siswi baru…” jelas sang wali kelas.

Ketika sang wali kelas selesai berbicara, suasana mendadak menjadi sangat ramai. Seisi kelas pada sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang menebak-nebak, berbisik-bisik atau berkasak-kusuk dengan teman sebangkunya, ada yang melongokkan kepala keluar jendela mengintip siswi baru.

“Tenang, tenang…” kata wali kelas. Kemudian kepalanya menoleh kearah pintu kelas. Sambil tersenyum, wali kelas berbicara. “Ayo masuk…” begitulah kata sang wali kelas.

Suasana mendadak menjadi hening setelah sempat ramai beberapa saat. Seorang anak asing masuk kedalam kelas dan semuanya pada terbengong-bengong melihat si anak asing yang katanya adalah penghuni baru kelas tersebut.

Salah seorang siswa mengangkat tangannya heran. “Bu, katanya siswi. Kok cowok sih? Siswi kan cewek, Bu. Yah…” kata salah satu siswa itu menatap wali kelas dan anak asing itu secara bergantian dengan pandangan bingung. Teman-temannya mengangguk setuju. Juga menatap wali kelas dan anak asing itu dengan pandangan bingung.

“Anak ini cewek, kalian nggak liat dia pake rok…” kata wali kelas.

“Kok kayak cowok sih, Bu? Tomboy ya?” tanya Sivia.

“Ya, seperti yang kalian liat…” jawab wali kelas. “Sudah, sudah, jangan banyak bertanya…” kata wali kelas. Kemudian pandangannya beralih pada siswi baru. “Sekarang perkenalkan diri…” suruh wali kelas.

“Nama saya Agni Tri Nubuwati, pindahan dari DI Yogyakarta, mohon bantuannya…” kata siswi baru itu sambil membungkukkan badan sedikit kemudian memberi senyum simpul.

“Silahkan kamu duduk dengan Shilla di sana…” kata wali kelas sambil menunjuk tempat dimana Shilla duduk. Shilla duduk di bagian pojok sebelah kanan barisan nomor dua, di belakang tempat duduk Shilla ada Sivia dan Ify.

Begitu Agni duduk di sebelah Sivia, Shilla mengulurkan tangannya. Memperkenalkan diri. “Gue Ashilla Zahrantiara, panggil aja Shilla…” begitu kata Shilla, ia juga tersenyum pada siswi baru itu.

Agni hanya tersenyum tipis, tanpa membalas uluran tangan Shilla, Agni menaruh tasnya di laci dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. Keliatan sekali kalau siswi baru ini sangatlah cuek.

***

Jam istirahat berbunyi, semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas, sama halnya dengan Sivia dan Ify. Tetapi, siswi baru itu sepertinya sama sekali tidak berminat menuju ke kantin. Ify dan Sivia menghampiri siswi baru itu yang masih duduk di bangkunya dengan santai, kedua tangannya diatas meja dan kepalanya ditidurkan diatas tangannya.

“Hei, nggak ke kantin? Kalau mau bareng kita…” sapa Ify.

Agni mengangkat kepalanya dengan malas, ia kesal karena terganggu. Ia hanya tersenyum tipis tanpa berbicara kepada Ify juga Sivia dan menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan Ify dan Sivia. Perutnya sudah terasa kenyang, jadi ia tidak perlu untuk ke kantin lagi. Setelah itu, ia memposisikan dirinya seperti semula.

“Beneran nggak mau? Menunya enak-enak lho…” kata Sivia menambahkan. “Lagian, kalau jam istirahat seperti ini semua siswa-siswi di sekolah ini dilarang di dalam kelas, takutnya kalau ada yang kehilangan nanti yang disalahkan yang di dalam kelas itu…” lanjut Sivia.

“Ya, benar. Nanti kalau ada yang hilang kamu disalahin lagi…” tambah Ify.

Agni mengangkat kepalanya dengan malas. Oke, tak ada pilihan lain. Begitulah pikirnya. “Yadeh, aku ikut kalian…” sahut Agni pelan. Sebenarnya ia malas. Tapi apa boleh buat?

“Nah, gitu dong.” Kata Ify sambil tersenyum puas. Sama dengan Sivia. Sivia juga tersenyum senang.

***

“Oya, kita kan belum kenalan. Aku Ify, dan ini sahabatku namanya Sivia. Senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu…” kata Ify ceria.

“Ya, semoga betah yah sekolah disini, hehehe…” tambah Sivia.

Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Semoga aja… pikirnya dalam hati. Kemudian, ia menatap kedua teman barunya yang duduk didepannya ini. Kedua teman barunya ini sangat menyenangkan. Ia sendiri baru kenal dengan kedua teman barunya ini, tapi ia merasa seperti udah mengenal mereka lama. Mereka baik, mudah bergaul. Tidak seperti dirinya, cuek.

***

To Be Continued
[ Read More.. ]