About me

My Photo
No Name
Bacalah ceritaku, meskipun tidak sebagus karya ICL lainnya, tapi aku ingin karyaku dibaca dan di hargai :)
View my complete profile
Feeds RSS
Feeds RSS

Wednesday, January 18, 2012

Don't Love Me - Part 2

Don't Love Me - Part 2

***

Keesokan paginya…

Alvin sedang menunggu Adik perempuannya yang sedang memakai sepatu di ruang tamu. Kedua tangannya terlipat didepan dada, ia baru akan mengeluarkan suara ketika adik perempuannya menghampirinya. Alvin mendesah pelan. “Lama banget sih, yaudah ayo berangkat…” kata Alvin pelan.

Ify menganggukkan kepalanya. Kemudian ia dan kakaknya berangkat menuju sekolah. Di jalan, kakak beradik ini bertemu dengan Sivia. Tampak terlihat Sivia sedang berlari-lari kecil menuju kearah Alvin dan juga Ify.

“Pagi Ify, Pagi Mas Alvin…” sapa Sivia dengan senyumannya yang begitu manis.

“Pagi…” balas kakak beradik ini dengan kompak.

“Kok tumben, Vi, agak siang. Biasanya kamu kan rajin banget berangkat paling awal…” tanya Ify bingung. Siapa yang tidak bingung? Sivia bahkan setiap harinya selalu berangkat pagi, jam enam saja sudah telat bagi Sivia berangkat sekolah. Tetapi sekarang, Sivia malah berangkat bersama dirinya dan kakaknya padahal sebelum berangkat ia sempat melirik jam di rumahnya dan jam tersebut menunjukkan pukul setengah tujuh.

“Oh, itu. Aku bangun kesiangan soalnya tadi malam aku begadang sampai jam dua pagi, hehehe…” kata Sivia menjelaskan sambil tertawa kecil. Malu mengatakannya, entah malu karena apa. Yang pasti ia merasa malu. Sivia melirik sekilas kearah Alvin dan mendapati lelaki itu tersenyum kearahnya. Oh, sungguh tampan.

“Anak cewek kenapa harus begadang sampai pagi? Nggak baik lho, nanti konsentrasinya pecah saat sekolah gara-gara ngantuk…” kata Alvin sok perhatian. Alvin tahu, ia berbiacara seperti ini pasti Sivia tidak akan menanggapinya seperti cewek-cewek lain. “Ah, Sok perhatian.”  atau “Aduh, pagi-pagi udah ceramah…”  atau bahkan “Udah deh, bukan urusan Mas Alvin juga.”  Kenapa? Ya, karena Alvin sudah mengenal sejak kecil, sama halnya dengan Ify.

“Nah, bener tuh. Aku aja jam setengah sembilan belum tidur udah kena marah sama Mas Alvin, huft…” keluh Ify kesal sambil memajukan bibirnya beberapa centi.

Alvin dan Sivia tertawa melihat Ify.

***

Saat jam istirahat, Ify bingung karena melihat mobil Kijang Innova berwarna hitam milik Rio datang kesekolah. Ia langsung menyenggol lengan Sivia yang berjalan disampinya. “Via, itu kenapa ya kok orang tua Mas Steph kesini?” tanya Ify bingung, tangannya menyenggol-nyenggol lengan Sivia tapi matanya tak lepas memandang Mobil Kijang Innova itu.

“Ya mana aku tahu, emangnya aku siapanya?” jawab Sivia cuek.

Sivia mendengus sebal. Ia sebal karena Sivia yang begitu sangat cuek padanya. Tapi dalam hati, sebenarnya Ify merasa sangat penasaran. Mendadak perasaannya mulai tidak enak. Entah kenapa Ify bisa merasa seperti ini, ia benar-benar tidak tahu karena perasaan itu muncul tiba-tiba. Membuat Ify semakin penasaran dan kepalanya pusing gara-gara terlalu banyak berpikir kenapa perasaannya tiba-tiba mendadak seperti ini.

Disisi lain, Rio mendesah pelan di sudut ruang kelasnya. Ia tahu orang tuanya datang kesekolah untuk mengursi surat kepindahannya. Kakaknya sudah sejak tadi pagi dan sekarang kakaknya sedang menunggu di Mobil. Rio sendiri tak mau keluar kelas sebelum ia dipanggil oleh guru. Yakin, karena orang tuanya pasti meminta kepada kepala sekolah agar Rio bisa pulang lebih awal. Baru memikirkan itu, seorang guru masuk keruang kelas Rio dan mengatakan kalau Rio sudah diperbolehkan untuk pulang.

Sebenarnya Rio merasa berat untuk meninggalkan sekolah dan desa tempat tinggalnya. Apalagi, Rio belum sempat berpamitan kepada teman-temannya. Padahal, Rio sudah terlanjur sangat nyaman disini. Semua teman-temannya sudah dianggapnya seperti saudara kandung. Ini sangat berat, Rio harus berpisah dengan orang-orang yang disayanginya di desa ini. Ini memang sangat mendadak, Rio benci sekali kalau ada sesuatu yang mendadak seperti ini. Papanya memberitahu kalau ia akan pindah ke Amerika kemarin sedangkan berangkatnya ke Amerika besok pagi. Tentu saja Rio tidak sempat berpamitan karena hari ini ia harus berkemas-kemas. Rio membenci hal ini.

Rio berjalan keluar kelas, menuju Mobil Kijang Innova milik orang tuanya di parkirkan. Di dalam mobil, ternyata sudah ada kakaknya yang duduk dibagian jok belakang mobil. Rio membuka pintu bagian belakang dan masuk, duduk disebelah kakaknya yang sejak tadi hanya diam. Melihat kakaknya yang diam, Rio juga diam. Tak berapa lama, kedua orang tuanya datang. Kemudian, Rio dan keluarganya pergi meninggalkan area sekolah menggunakan Kijang Innova yang membawanya pergi. Ya, inilah saat-saat terakhir kalinya Rio menginjakkan kaki disekolah kesayangannya.

Dari kejauhan, Ify melihat Kijang Innova itu pergi meninggalkan sekolah. Otaknya kembali berputar, memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Tadi ia juga melihat Rio berjalan menuju Mobil miliknya dan masuk, Laki-laki itu juga menggendong tasnya. Kemudian setelah orang tuanya kembali langsung pergi. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Tiba-tiba tanpa disadarinya dadanya berdebar dua kali lebih cepat.

***

Pulang sekolah, Ify iseng menanyakan tentang rasa penasarannya sejak pagi tadi disekolah kepada kakaknya, Alvin Jonathan. Tapi, ia ragu untuk bertanya. Tapi sayang, rasa penasarannya memenuhi pikirannya sehingga akhirnya ia bertanya. “Eh, Mas Alvin, tadi itu… Kenapa Mas Steph pulang duluan?” tanya Ify.

Alvin menoleh. Saat ini, ia dan Ify sedang duduk di teras depan rumahnya. Sedang bersantai. “Lha, kamu nggak tau, Dek? Rio kan mau pindah ke Amerika besok pagi, orang tuanya kesekolah kita kan gara-gara mau mengurus surat kepindahan…” kata Alvin tenang. Tampaknya Alvin sama sekali tidak heran Ify bertanya-tanya.

DEG. Ify sepertinya mulai menyadari jatungnya lebih cepat berdetak dari yang sebelumnya. Apa yang terjadi padanya? Perasaan itu… Ify cepat-cepat membuang perasaan itu jauh-jauh. Ah, kenapa ia jadi takut seperti ini? Bukankah ini adalah hal yang menyenangkan mendengar laki-laki itu akan segera pindah ke Amerika? Berarti, tidak akan ada orang lain lagi yang akan menjaili dirinya kan? Ya, pasti. Seharusnya ia senang, lelaki itu pergi. Jauh dari daerahnya yang sekarang ia tempati. Bagus sekali. Tapi jujur, ia sama sekali tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Perasaan takut kehilangan… Mungkinkah? Tidak mungkin. Ia tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu, ia hanya menganggap laki-laki itu anak nakal yang suka menjailinya. Tidak mungkin, kalaupun ia memang memiliki perasaan seperti itu ia yakin ia hanya merasa kecewa karena harus kehilangan satu teman. Tidak mungkin ia memiliki perasaan itu. Cinta. Mustahil, sangat mustahil. Mana mungkin ia bisa jatuh cinta disaat ia baru saja duduk di bangku SMP kelas tujuh. Aneh. selama ini kan ia sangat benci dengan laki-laki itu. Ia pernah menyelutuk kalau benci jadi cinta itu tidak benar. Benar kata kakaknya, kalaupun memang dia cinta… Ya, cinta monyet, cintanya anak kecil seperti dirinya yang baru saja kelas tujuh. Ah tidak, ia tidak merasa cinta. Ia hanya merasa sayang. Ya, sayang bukan cinta. Sayang sebagai teman. Ify memantapkan perasaan itu. Tiba-tiba ia teringat kejadian kemarin sore di sungai saat ia merasa tampaknya perilaku Rio berubah. Apa ini? Apa Rio sedih meninggalkan desa ini? Mungkin…

Ify beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam rumah, meinggalkan Alvin yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Ia tidak memperdulikannya. Ia capai, ia harus beristirahat. Kepalanya juga terasa berat.

***

Keesokan paginya…

Hari ini Ify berangkat sekolah tidak bersama kakaknya, ia berangkat lebih awal dan ia sengaja melewati jalan yang agak jauh menuju sekolah. Jalan dimana ia akan melewati rumah Rio. Sejak tadi malam, ia selalu kepikiran laki-laki itu terus. Ia tak bisa menghilangkan bayang-bayang laki-laki itu dari pikirannya.

Ify berhenti tepat di depan rumah Rio. Rumahnya sudah terlihat sangat sepi, seperti tak berpenghuni. Mungkin saja, Rio dan keluarganya sudah berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta di Jakarta sejak subuh atau bahkan kemarin malam. Ify emndesah pelan. Perasaan kehilangan itu muncul lagi dalam benaknya…

Disaat yang bersamaan, Rio masuk kedalam pesawat bersama dengan Kakak, Papa dan Mama tirinya. Ya, ini adalah terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di Indonesia. Entah sampai kapan ia menetap di Amerika. Entah bisa atau tidak ia kembali ke Indonesia. Rasanya sangat berat meninggalkan negara ini. Negara tempat dimana ia dilahirkan, dibesarkan, dimana ia mempunyai banyak teman yang baik dan menyenangkan. Itu artinya, jika ia meninggalkan Indonesia, ia juga tidak akan bisa lagi menengok makan Ibunya. Tapi, suatu saat nanti ia berjanji akan datang kembali ke Indonesia.

Kemudian, Rio dan keluarganya masuk ke dalam pesawat.

***

5 tahun kemudian…

Ify dan Sivia sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Keduanya kini sudah kelas sebelas. Kebetulan atau memang Ify dan Sivia berjodoh, mereka satu kelas lagi. Beruntung sekali. Tetapi mereka tidak bersekolah di desa mereka yang lama, mereka bersekolah di Jakarta. Tidak hanya mereka, Alvin juga ikut ke Jakarta. Mereka bertiga ngekost di tempat kost dekat sekolah mereka.

“Selamat pagi, anak-anak…” kata wali kelas masuk kedalam ruang kelas.

“Pagi, Bu…” salam semua penghuni kelas itu kepada wali kelas. Ify, Sivia dan teman-temannya tampak heran dan memasang wajah bingung. Kenapa wali kelasnya masuk ke kelas mereka? Ini kan bukan pelajaran Bahasa Indonesia —wali kelas di kelas itu mengajar bahasa Indonesia di kelas itu— tapi ini kan pelajaran Fisika. Tapi kok malah wali kelasnya yang masuk. Aneh. Pasti ada apa-apanya ini. Ya, pasti.

“Ibu mau minta waktunya sebentar. Jadi gini, di kelas kalian kedatangan siswi baru…” jelas sang wali kelas.

Ketika sang wali kelas selesai berbicara, suasana mendadak menjadi sangat ramai. Seisi kelas pada sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang menebak-nebak, berbisik-bisik atau berkasak-kusuk dengan teman sebangkunya, ada yang melongokkan kepala keluar jendela mengintip siswi baru.

“Tenang, tenang…” kata wali kelas. Kemudian kepalanya menoleh kearah pintu kelas. Sambil tersenyum, wali kelas berbicara. “Ayo masuk…” begitulah kata sang wali kelas.

Suasana mendadak menjadi hening setelah sempat ramai beberapa saat. Seorang anak asing masuk kedalam kelas dan semuanya pada terbengong-bengong melihat si anak asing yang katanya adalah penghuni baru kelas tersebut.

Salah seorang siswa mengangkat tangannya heran. “Bu, katanya siswi. Kok cowok sih? Siswi kan cewek, Bu. Yah…” kata salah satu siswa itu menatap wali kelas dan anak asing itu secara bergantian dengan pandangan bingung. Teman-temannya mengangguk setuju. Juga menatap wali kelas dan anak asing itu dengan pandangan bingung.

“Anak ini cewek, kalian nggak liat dia pake rok…” kata wali kelas.

“Kok kayak cowok sih, Bu? Tomboy ya?” tanya Sivia.

“Ya, seperti yang kalian liat…” jawab wali kelas. “Sudah, sudah, jangan banyak bertanya…” kata wali kelas. Kemudian pandangannya beralih pada siswi baru. “Sekarang perkenalkan diri…” suruh wali kelas.

“Nama saya Agni Tri Nubuwati, pindahan dari DI Yogyakarta, mohon bantuannya…” kata siswi baru itu sambil membungkukkan badan sedikit kemudian memberi senyum simpul.

“Silahkan kamu duduk dengan Shilla di sana…” kata wali kelas sambil menunjuk tempat dimana Shilla duduk. Shilla duduk di bagian pojok sebelah kanan barisan nomor dua, di belakang tempat duduk Shilla ada Sivia dan Ify.

Begitu Agni duduk di sebelah Sivia, Shilla mengulurkan tangannya. Memperkenalkan diri. “Gue Ashilla Zahrantiara, panggil aja Shilla…” begitu kata Shilla, ia juga tersenyum pada siswi baru itu.

Agni hanya tersenyum tipis, tanpa membalas uluran tangan Shilla, Agni menaruh tasnya di laci dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya. Keliatan sekali kalau siswi baru ini sangatlah cuek.

***

Jam istirahat berbunyi, semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas, sama halnya dengan Sivia dan Ify. Tetapi, siswi baru itu sepertinya sama sekali tidak berminat menuju ke kantin. Ify dan Sivia menghampiri siswi baru itu yang masih duduk di bangkunya dengan santai, kedua tangannya diatas meja dan kepalanya ditidurkan diatas tangannya.

“Hei, nggak ke kantin? Kalau mau bareng kita…” sapa Ify.

Agni mengangkat kepalanya dengan malas, ia kesal karena terganggu. Ia hanya tersenyum tipis tanpa berbicara kepada Ify juga Sivia dan menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan Ify dan Sivia. Perutnya sudah terasa kenyang, jadi ia tidak perlu untuk ke kantin lagi. Setelah itu, ia memposisikan dirinya seperti semula.

“Beneran nggak mau? Menunya enak-enak lho…” kata Sivia menambahkan. “Lagian, kalau jam istirahat seperti ini semua siswa-siswi di sekolah ini dilarang di dalam kelas, takutnya kalau ada yang kehilangan nanti yang disalahkan yang di dalam kelas itu…” lanjut Sivia.

“Ya, benar. Nanti kalau ada yang hilang kamu disalahin lagi…” tambah Ify.

Agni mengangkat kepalanya dengan malas. Oke, tak ada pilihan lain. Begitulah pikirnya. “Yadeh, aku ikut kalian…” sahut Agni pelan. Sebenarnya ia malas. Tapi apa boleh buat?

“Nah, gitu dong.” Kata Ify sambil tersenyum puas. Sama dengan Sivia. Sivia juga tersenyum senang.

***

“Oya, kita kan belum kenalan. Aku Ify, dan ini sahabatku namanya Sivia. Senang bisa bertemu dan berkenalan denganmu…” kata Ify ceria.

“Ya, semoga betah yah sekolah disini, hehehe…” tambah Sivia.

Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Semoga aja… pikirnya dalam hati. Kemudian, ia menatap kedua teman barunya yang duduk didepannya ini. Kedua teman barunya ini sangat menyenangkan. Ia sendiri baru kenal dengan kedua teman barunya ini, tapi ia merasa seperti udah mengenal mereka lama. Mereka baik, mudah bergaul. Tidak seperti dirinya, cuek.

***

To Be Continued

| Free Bussines? |

0 komentar:

Post a Comment